Selamat Datang di Web Diwira Travel dapatkan update promo terbaru dengan invite pin kami : 7FB25D41 / 27ADC94F

Pages

Mengenal Tradisi Perang Pandan di Desa Adat Tenganan Bali

Perang Pandang di Desa Tenganan
Perang Pandan atau mekare-kare merupakan satu tradisi sakral yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Tenganan di Kabupaten Karangasem Bali secara turun temurun. Upacara ini biasanya dilakukan selama dua hari berturut-turut, pada saat sasih kapat (bulan keempat dalam penanggalan kalender Bali) dimana saat itu dilaksanakan upacara yang disebut Ngusabe Kapat. Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang, karena masyarakat Hindu disana menganut aliran kepercayaan terhadap Dewa Indra.
Peserta perang pandan ini adalah pemuda desa tersebut dan ada juga peserta dari luar desa. Pemuda desa adalah bagian inti dari peserta perang pandan ini dan pemuda dari desa lain sebagai peserta pendukung, namun bagi peserta dari desa lain harus tetap mengenakan pakaian khas tenganan yaitu kain tenun pagringsingan. Bagi pemuda desa adat Tenganan, ini adalah sarana pembuktian bahwa seorang pemuda sudah mulai menginjak dewasa. Adapun peralatan yang digunakan dalam perang pandan ini adalah seikat daun pandan berduri sebagai senjata dan tameng yang terbuat dari rotan. Masing-masing peserta akan diberikan seikat daun pandan berduri dan tameng, tidak ada aturan dalam pertarungan ini, namun ada wasit yang bertindak sebagai penengah. Pertarungan ini akan diiringi oleh musik gambelan selonding, dimana gambelan ini berbeda dengan gambelan lainnya dimana alat gambelan ini hanya boleh dimainkan oleh orang khusus yaitu orang yang disucikan dan alat ini tidak boleh menyentuh tanah dan hanya dipergunakan pada hari-hari tertentu saja. Para peserta akan menari sambil sekali-sekali saling menyerang dan bergulat berusaha untuk menggoreskan duri daun pandan ke tubuh musuhnya. Pertarungan ini berlangsung singkat, kurang lebih 1 menit dan dilakukan secara bergilir sampai kurang lebih selama 3 jam. Setelah perang selesai, peserta yang terluka akan diolesi dengan ramuan tradisional yang bahan dasarnya terbuat dari kunir (kunyit).
Tidak ada peserta yang dinyatakan menang ataupun kalah, dan tidak ada dendam diantara mereka, karena semua itu mereka sadari sebagai sebuah persembahan kepada Dewa Indra, dewa yang sangat dihormati oleh masyarakat disana. Setelah perang usai, peserta akan melakukan persembahyangan di pura setempat dan dilanjutkan dengan makan bersama yang disebut “megibung”, sebagai makna kebersamaan.
Itulah salah satu tradisi turun temurun yang masih dilestarikan oleh masyarakat Tenganan sampai sekarang.

English Russian Japanese German Chinese Simplified

Jam Pelayanan :

Senin - Jumat : 09.00 - 17.00 Wita

Sabtu : 09.00 - 15.00 Wita

Tour Reservation

Reservation