Selamat Datang di Website Diwira Travel manage by PT. Diwira Wisata Indonesia. Kami menawarkan Paket Tour di Bali dan Lombok. Silahkan menghubungi kami di nomor telpon (0361) 8311135 atau via whatshapp di nomor 082341134613.

Pages

Candidasa Bali

Candidasa Bali

Candidasa adalah sebuah kota pantai dipesisir timur pulau Bali, dengan lagoon yang indah tempat yang cocok untuk menyaksikan sunrise di pagi hari

Pantai Lovina

Lovina Bali

Pantai Lovina adalah sebuah pantai di utara Bali yang banyak dikunjungi wisatawan untuk menyaksikan atraksi lumba-lumba di tengah laut.

Tanah Lot

Tanah Lot Bali

Tanah Lot merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Bali, dengan hamparan pemandangan laut dengan pura yang berdiri di atas tebing menjadikan daerah ini banyak dikunjungi wisatawan baik local maupun domestik.

Pantai Amed

Pantai Amed Bali

Pantai Amed juga terkenal dengan keindahan bawah lautnya, yang memiliki terumbu karang yang masih terjaga sangat ideal untuk melakukan aktifitas diving.

Pantai Jimbaran

Jimbaran Bali

Pantai Jimbaran menyajikan keindahan pasir pantainya dan pemandangan sunset di sore hari. Yang membedakan dengan pantai-pantai tujuan wisata lainnya di Bali adalah pantai ini merupakan destinasi wisata kuliner pantai

Tampilkan postingan dengan label Objek Wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Objek Wisata. Tampilkan semua postingan

Objek Wisata di Kabupaten Karangasem

Lambang Kabupaten Karangasem
Kabupaten Karangasem adalah sebuah kabupaten paling timur dari propinsi Bali, sekitar 70 km arah timur dari Denpasar.  Kabupaten Karangasem berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebalah utara, Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Bangli disebelah barat, Selat Lombok disebelah timur dan samudera Indonesia disebelah selatan.

Sejarah Kota Amlapura

Mula-mula Ibu Kota Karangasem masih berpusat dengan nama Karangasem pula. Mengingat beberapa Kabupaten di Bali sudah memiliki Ibu Kota seperti Buleleng dengan Kota Singaraja - Singa Ambararaja, Jembrana dengan Kota  Negara, Badung dengan Ibu Kota Denpasar, maka dicarilah upaya untuk mencari nama terbaik Ibu Kota Karangasem.
Anak Agung Gde Karang yang menjadi Bupati saat itu berkonsultasi dengan Ketua DPRD Ida Wayan Pidada, hingga menemukan nama Amlepure (Amlapura) yang artinya, Amla berarti buah-buahan, sebagaimana layaknya daerah Karangasem yang memiliki potensi buah-buahan yang sangat beragam, buah apapun yang ada di Bali di Karangasem pun ada. Dari asal nama wilayah Amlanegantun dan sebagai pusat buah-buahan yang beragam, maka lahirlah nama Amlapura (Pura = tempat, Amla = buah).
Nama Amlapura akhirnya diresmikan sebagai Ibu Kota Kabupaten Karangasem  dengan turunnya Kep. Mendagri tanggal 28 Nopember 1970 No. 284 tahun 1970, dan terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1970,  Kota Karangasem sebagai Ibu Kota Dati II diubah menjadi Amlapura, bersamaan dengan  Upacara Pembukaan Selubung Monument Lambang Daerah, oleh Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) XV Bali, sebagai Panji kebanggaan Kabupaten Karangasem di Lapangan Tanah Aron. Dan yang menggembirakan saat itu Kabupaten Karangasem menerima penghargaan Sertifikat dan Tropy Patung dan hadiah berupa uang Rp. 200,00 sebagai Kabupaten Terbersih di Bali.

Makna Lambang Daerah Kabupaten Karangasem

Lambang Daerah diambil dari simbol Gunung Agung yang mengepulkan asap dengan membentuk Pulau Bali dengan Tugu Pahlawan di tengah, dikelilingi padi dan kapas menandakan simbol kemakmuran Gunung Agung dengan Pura Besakih sebagai pusat ritual umat Hindhu serta memiliki sejarah sebagai daerah perjuangan, murah sandang pangan, gemah ripah loh jinawi berkat lahar Gunung Agung.
Sedangkan garis merah merupakan simbol Karangasem ngemong Pura Kiduling Kreteg di Besakih.

Kabupaten Karangasem memiliki banyak tempat-tempat wisata menarik yang patut dikunjungi, berikut tempat-tempat/objek-objek wisata yang ada di kabupaten Karangasem antara lain :

Pantai Amed Desa Tenganan Pantai Candidasa
Pantai Amed
Desa Tenganan
Pantai Candidasa
Tirta Gangga Taman Ujung Pura Besakih
Taman Tirta Gangga
Taman Ujung
Pura Besakih
Bukit Jambul
Bukit Jambul

Tradisi Mekotekan di Desa Adat Munggu Bali

Tradisi Mekotek
Tradisi Mekotekan atau sering disebut Mekotek adalah sebuah tradisi adat yang dilaksanakan oleh umat Hindu di Desa Munggu, Kabupaten Badung yang masih tetap lestari sampai sekarang yang dirayakan khusus di hari raya kuningan. Prosesi gerebek mekotek ini diikuti oleh 12 banjar setempat di desa Munggu.
Tradisi Mekotekan adalah ritual yang memakai sarana kayu biasanya yang paling banyak dipakai dari jenis pulet yang dimainkan secara bersama-sama untuk merayakan kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan). Ritual mekotek biasanya dilaksanakan di halaman Pura Desa oleh remaja pria atau para bapak-bapak. Masyarakat yang didominasi oleh pria tua dan muda mengenakan pakaian adat ringan semua membawa sebilah tongkat kayu berukuran kurang lebih tiga sampai empat meter beriringan berjalan menuju pura desa. Mendekati areal pura desa mereka saling menyatukan tongkat yang mereka genggam dengan cara memukul-mukulkan tongkatnya hingga menyerupai bangunan segi tiga yang menjulang ke langit. Penyatuan ini menimbulkan suara yang sangat gaduh yang membuat para peserta semakin bersemangat. Kemudian sambil beramai-ramai tongkat yang sudah menyatu itupun mereka bawa berputar-putar hingga akhirnya kembali berpisah. Tak jarang saat tongkat berpencar, beberapa warga terkena tongkat tersebut, tapi tidak lantas membuat mereka kesal ataupun marah, malahan mereka bangkit kembali dengan perasaan dan senyum puas.
Para peserta yang kena pukulan tongkat harus merelakan dirinya untuk naik ke kumpulan tongkat dari para peserta yang lain. Karena ritual ini sudah sering dilaksanakan dan sudah terbiasa maka meskipun terkena pukulan tongkat ataupun terjatuh dari ujung kumpulan tongkat peserta yang ikut tidak boleh ada yang marah.

Asal-usul Tradisi Mekotek

Tradisi Mekotekan yang dilaksanakan setiap enam bulan kalender bali ini sudah ada sejak tahun 1934. Namun baru mulai dilestarikan sejak tahun 1946 setelah warga Munggu terbebas dari gerubug atau wabah penyakit. Konon katanya, saking gembiranya warga terbebas dari penyakit, saat itu mereka mengacung-acungkan tombak yang mereka miliki. Tombak di mata penjajah Belanda waktu itu disimbolkan sebagai perlawanan. Namun seiring perkembangan jaman dan waktu sarana tombak itu sekarang diganti dengan sebilah kayu. Ritual Mekotek harus dilaksanakan bertepatan dengan hari raya kuningan, karena itu merupakan pawisik yang didapat oleh Raja Mengwi Cokorda Made Munggu, dan katanya ada pantangan, kalo ritual ini tidak dilaksanakan tidak menutup kemungkinan Munggu akan terkena gerubug lagi, sehingga ritual itu masih tetap dilaksanakan hingga sekarang.

Indahnya Objek Wisata Air Terjun Gitgit Bali

Air Terjun Gitgit
Air Terjun Gitgit terletak di Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, dan dapat dicapai dengan berkendara selama kurang lebih 30 menit dari kota Singaraja menuju kearah Bedugul. Air terjun ini memiliki ketinggian ± 35 meter dan merupakan air terjun tertinggi di pulau Bali. Untuk mencapai lokasi dari parkir pengunjung harus berjalan melewati persawahan, kebun cengkeh dan kopi, dengan nuansa alam sejuk yang khas di daerah pegunungan. Lokasi air terjun ini mudah karena berada dekat di pinggir jalan raya Denpasar-Bedugul-Singaraja. Jika dari Denpasar arahkan kendaraan menuju Bedugul atau Singaraja.  Setelah melewati Bedugul, perjalanan diteruskan menuju Gitgit atau Singaraja.  Sesampai di Desa Gitgit akan terlihat papan arah penunjuk menuju lokasi air terjun yang berada di sebelah kiri jalan.
Kalau anda datang dari kawasan Denpasar, dapat menikmati pemandangan menarik sepanjang jalan. Selepas Bedugul dengan danau Beratan yang menawan, kita akan melewati jalan menanjak dengan ratusan monyet di pinggir jalan. Monyet-monyet ini persis berada di bagian tertinggi Bedugul, dan dijamin tidak akan mengganggu kita, bisa berhenti sejenak, sambil melihat pemandangan alam dari ketinggian, kemudian jalan mulai turun dan berliku menuju tujuan utama ke air terjun Gitgit. Tempat ini sangat cocok untuk para pecinta wisata treking, dengan medan area jalan yang berkelok dan naik turun disertai dengan pemandangan hutan yang alami.
Tiba di Gitgit, Anda masih harus berjalan kaki kurang lebih 500 meter untuk sampai ke lokasi air terjun. Jalan yang dituju adalah jalan menurun, pastikan alas kaki Anda tidak licin sehingga tidak mudah terpeleset. Dengan turun menggunakan kedua kaki setelah anda melewati tempat parkir Gitgit, ada beberapa pemuda lokal yang memang di organisir oleh desa adat setempat yang menawarkan jasa untuk mengantar para wisatawan menuju ke lokasi air terjun Gitgit.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Air Terjun Gitgit selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.

Objek Wisata Taman Tirta Gangga

Tirta Gangga
Tirta Gangga merupakan taman air kerajaan milik keluarga kerajaan Karangasem. Terletak di desa Ababi, sekitar 83 km dari Denpasar atau 6 km sebelah utara Amlapura, ibukota Kabupaten Karangasem. Tirta berarti air yang diberkati dan diambil dari nama sungai Gangga di India. Air dari mata air Tirta Ganga dianggap sebagai air suci oleh umat Hindu di Bali. Mata air ini diperlukan untuk upacara yang diselenggarakan oleh Pura-Pura di sekitar Tirtagangga yang dapat dicapai dengan berjalan kaki.

Sejarah Taman Tirta Gangga

Tirta Gangga berarti air suci dari sungai Gangga yang merupakan sungai yang disucikan oleh umat Hindu.  Tirta Gangga adalah sebuah istana taman air kerajaan yang dibangun pada tahun 1948 oleh Raja Karangasem yang bernama Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Arsitektur taman air ini merupakan gabungan dari arsitektur gaya Bali dan Cina. Sebelum dibangun menjadi taman air, sumber air telah berada di sana sebelumnya, yang digunakan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan dasar akan air namun diyakini juga sebagai air suci untuk memurnikan setiap energi buruk di sekitar daerah tersebut.
Yang menarik dari istana taman air ini adalah kolam yang dilengkapi dengan labirin dan air mancur serta dikelilingi oleh taman yang rimbun dan patung-patung. Pada tahun 1963 tempat ini luluh lantak oleh dahsyatnya letusan Gunung Agung, namun dengan penuh kecintaan akhirnya taman ini berhasil di bangun kembali dengan tetap mempertahankan struktur istana taman air sebelumnya. Inti dari taman air ini adalah adanya sebelas air mancur berjenjang yang dikelilingi oleh patung-patung dan berbagai ornamen ukiran yang sangat menarik.
Luas taman air Tirta Gangga ini adalah 1,2 ha, terdiri dari tiga tingkatan tanah membentang dari timur ke barat. Di tingkat menengah, tingkat Bwah, terdapat sebelah buah air mancur Nawa Sanga berdiri elegan. Dan di tingkat Bhur, di sisi kiri jalan, lurus dari pintu masuk di sebelah barat terdapat kolam besar dengan sebuah pulau di tengah-tengahnya.
Daerah disekitar taman wisata Tirta Gangga ini masih tetap mempertahankan kealamiannya dengan hamparan sawah yang sangat indah untuk dinikmati. Dan sekarang banyak juga dibangun home stay, hotel dan restoran namun dengan tetap mempertahankan keaslian alam disekitarnya.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Taman Tirta Gangga selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Indahnya Terasering di Tegalalang Ubud

Tegalalang Ubud Bali
Tegalalang merupakan salah satu destinasi wisata di Ubud Bali. Objek wisata persawahaan di sebelah utara Ubud ini dapat ditempuh dengan kendaraan bermotor / mobil kurang lebih 1 – 1,5 jam perjalanan dari kota Denpasar dan kurang lebih 15 – 20 menit dari Ubud. Tegalalang terkenal akan panorama sawah bertingkat (terasering) yang indah menawarkan hijaunya alam Tegalalang sehingga banyak wisatawan yang datang dari berwisata ke Kintamani untuk menyempatkan diri singgah ke tempat ini untuk sekedar berfoto-foto maupun menikmati makanan di café-café atau restoran yang terdapat di sepanjang jalan ke tempat ini. Bali yang identik dengan pantai ternyata menyimpan pemandangan mempesona akan persawahan berundak atau terasering. Sebagai salah satu pemandangan teras sawah terbaik di Bali, Tegallalang telah memikat hati banyak orang.

Menikmati Suasana Pedesaaan Dengan Background Persawahan di Ubud

Keindahan Tegalalang ternyata memikat hati banyak orang. Persawahan yang membentuk anak tangga dengan hamparan padi seperti permadani berwarna hijau menyiratkan sebuah misteri tersendiri. Misteri pembentukan terasering yang unik dan juga teka-teki untuk bisa menyibak keindahan apalagi yang ditawarkan di tempat ini. Pematang sawahnya tertata rapi dan berkelok-kelok mengikuti bentuk areal persawahan yang membentuk cekungan di tiap petaknya. Sedangkan waktu yang tepat untuk menikmati keindahan areal persawahan ketika siang hari karena saat itu warna hijau padi akan lebih menyala dan lebih segar.
Di Tegalalang ini merupakan sentra home industri kerajinan tangan dan banyak terdapat art shop-art shop yang berjejer disepanjang jalan yang menyediakan oleh-oleh khas Bali seperti aneka kerajinan tangan kucing-kucingan, dolphin, jerapah, dll yang terbuat dari kayu atau besi, aneka model tas dari beragam bahan, ukiran batu2 padas kecil, ukiran kayu murah meriah, topeng2 kayu, macam2 kerajinan tangan dari kaca yang dibentuk menjadi vas bunga, botol unik, piring-piring, semuanya ada di sini.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Tegalalang Ubud selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Desa Tenganan Bali - Gambaran Eksistensi Tradisi Kuno Bali

Desa Tenganan Bali
Desa Tenganan merupakan salah satu desa tradisional yang terletak di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Objek wisata Desa Tenganan ini bisa dicapai dengan berkendara kurang lebih 10 menit dari objek wisata Candidasa. Desa Tenganan merupakan salah satu desa yang masih mempertahankan pola hidup yang tata masyarakatnya mengacu pada aturan tradisional adat desa yang diwariskan nenek moyang meraka yang disebut dengan Desa Bali Aga. Penduduk Bali Aga adalah orang-orang Bali asli yang pertama menghuni Bali. Masyarakatnya sangat memegang adat dan tradisi. Menurut seorang pemuka desa di Tenganan, penduduk Tenganan,  khususnya yang perempuan, tidak diizinkan untuk menikah dengan orang di luar penduduk Bali Aga.

Sejarah Desa Tenganan

Menurut catatan sejarah, masyarakat Desa Tenganan sebenarnya berasal dari Desa Peneges, Gianyar, yang dulunya disebut dengan Desa Bedahulu. Menurut cerita rakyat, pada jaman dahulu Raja yang berkuasa di Bedahulu kehilangan seekor kuda putih kesayangannya, sehingga diperintahkanlah untuk menemukan kuda tersebut. Suatu ketika kuda tersebut akhirnya ditemukan, namun sayang kuda tersebut ditemukan dalam keadaan sudah mati. Raja bersedih, namun beliau tetap menghargai hasil kerja keras penemu tersebut yang bernama Ki Patih Tunjung Biru. Sebagai hadiah, beliau diberikan tanah seluas sejauh bau bangkai kuda tersebut masih tercium. Oleh Ki Patih Tunjung Biru, bangkai kuda tersebut dipotong-potong dan disebar di beberapa bagian bukit dan pantai disekitar Tenganan, sehingga bau bangkai tersebut tercium dalam cakupan wilayah yang luas meliputi wilayah pantai Candidasa, sampai ke Bukit Barat (Bukit Kauh) dan Bukit Timur (Bukit Kangin).
Bentuk dan pengaturan tata letak bangunan di Desa Tenganan masih mengikuti aturan adat turun temurun yang masih dipertahankan hingga sekarang. Selain bentuk bangunan yang masih orisinil tradisional, Tenganan juga terkenal dengan wisata upacara adat yang dikenal dengan nama Perang Pandan. Kalau anda ingin mengunjungi Desa Tenganan, sangat disarankan untuk berkunjung pada bulan Juni atau Juli. Di bulan-bulain ini, Desa Tenganan sedang ramai mengadakan Perang Pandan. Saat Perang Pandan, para pemuda desa akan menggelar pertarungan persahabatan dengan seikat pandan sebagai senjata. Tentu Perang Pandan ini akan jadi tontonan yang menarik.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Desa Tenganan selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Pasar Seni Sukawati - Pusat Oleh-oleh Khas Bali

Pasar Seni Sukawati
Pasar Seni Sukawati merupakan sebuah pasar tradisional yang khusus menjual souvenir atau oleh-oleh khas Bali. Pasar ini menjual berbagai kerajinan seni khas Bali seperti sandal manik-manik, pakaian, tas, lukisan, patung kayu, dan lain-lain. Pasar Seni Sukawati memang sudah tidak asing di telinga. Terkenal sebagai surga belanjanya para wisatawan, tempat ini cocok untuk berburu oleh-oleh. Pasar ini berdiri sekitar tahun 1980an dan buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 18.00 Wita. Pasar ini terletak di Desa Sukawati, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, dan dapat ditempuh dengan berkendara dari Kota Denpasar selama kurang lebih 30 menit.

Pasar Seni Sukawati Surganya Belanja Oleh-oleh Khas Bali

Setiap hari pasar ini selalu ramai dikunjungi oleh  berbagai lapisan masyarakat, juga para wisatawan yang bertujuan berbelanja dan membeli kerajinan khas Bali untuk di jadikan sebagai koleksi, souvenir dan cindra mata baik buat diri sendiri, saudara, keluarga, teman dan kolega. Pasar Seni Sukawati tutup saat Hari Raya Nyepi dan Galungan.
Di Pasar Seni Sukawati ini juga berlaku tawar menawar dalam transaksi jual beli seperti halnya pasar seni atau pasar tradisional lainnya. Dalam hal ini kita tidak pernah tahu berapa harga yang pasti karena setiap pembeli mendapatkan harga yang berbeda.  Jangan malu atau sungkan untuk melakukan tawar menawar harga sehingga mendapatkan harga yang sesuai dengan harapan anda, penjual tidak akan marah kalau kita menawar dengan harga rendah, itu sudah menjadi tradisi disana.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Pasar Seni Sukawati selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Indahnya Panorama Desa Jatiluwih

Jatiluwih
Desa Jatiluwih merupakan sebuah desa di  kaki Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan – Bali. Tempat ini terkenal dengan wisata alam padi rice terrace dengan suasana yang sejuk karena terletak di ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Desa Jatiluwih dapat ditempuh kurang lebih 30 menit dari kota Tabanan atau sekitar 1,5 jam dari kota Denpasar dengan berkendara. Tempat ini menyajikan keindahan sawah yang berundak-undak terutama jika dinikmati di sore hari sambil menyaksikan sunset.

Sejarah Desa Jatiluwih

Menurut sejarah, nama Desa Jatiluwih dulunya bernama Desa Girikusuma. Pergantian nama tersebut terjadi pada masa pemerintahan raja Dalem Waturenggong (1460 – 1552). Pada masa itu di desa Girikusuma terdapat seorang tokoh agama yang bernama  Ida Bagus Angker yang melakukan meditasi dan mediksa (menjadi pendeta). Setelah beliau menjadi pendeta desa tersebut kemudian berganti nama menjadi desa Jatiluwih. Pada tempat di mana beliau bermeditasi, kemudian dibangun sebuah tempat pemujaan yang disebut Pura Gunung Sari. Pura tersebut didirikan oleh Ida Bagus Angker bersama dengan seorang abiseka Ida Bhagawan Rsi Canggu pada sekitar abad ke-16. Pada bagian halaman dalam Pura Gunung Sari terdapat bangunan suci padmasana yang berfungsi untuk memuja Tuhan dalam manifestasi terhadap Dewa Siwa pada aspek Mahadewa yang ber-sthana di Gunung Batukaru atau Penguasa Mandala Barat. Sehingga pemujaan tersebut dilakukan agar mendapatkan anugerah khusus yang diharapkan yaitu kesuburan, kemakmuran, dan keselamatan dalam bidang pertanian.
Sawah di Desa Jatiluwih menggunakan system pengairan subak yaitu system pengairan atau irigasi tradisional Bali yang berorientasi masyarakat. Dan setiap subak memiliki organisasi sendiri-sendiri dengan ketua yang disebut Pekaseh, serta memiliki pura tempat memuja dewi kemakmuran atau dewi kesuburan. Keunikan sawah bertingkat di Jatiluwih ini mencuri perhatian UNESCO dan dinominasikan masuk daftar UNESCO World Heritage sebagai warisan budaya dunia.
Pembagian air pun diatur sesuai jauh dekatnya persawahan dengan sumber mata air. Lebih mendahulukan areal persawahan yang jauh, menandakan ada kesetaraan dan keadilan dalam sistem subak. Struktur yang sedemikian rupa bercampur dengan nilai sosial kegotong-royongan masyarakat membentuk harmonisasi yang ham¬pir menyentuh kesempurnaan. Tercipta dari tangan–tangan manusia dari abad ke-14 yang dipertahankan hingga saat ini.
Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Desa Jatiluwih selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Pantai Amed Bali : Surga Wisata Diving

Pantai Amed Bali
Pulau Bali memang kaya akan destinasi wisata dari ujung barat hingga ujung timur. Salah satunya adalah Pantai Amed yang terletak di ujung timur dari pulau Bali. Untuk bisa sampai ke tempat ini dibutuhkan waktu kurang lebih 3 jam dengan berkendara dari kota Denpasar. Berbeda dengan Pantai Kuta dan Pantai Sanur yang menawarkan keindahan pasir putihnya, Pantai Amed ini merupakan pantai dengan pasir hitam. Namun tidak kalah indah dengan pantai-pantai lain di Bali, Amed menawarkan keindahan panorama pegunungan berpadu dengan birunya air laut. Pantai Amed terkenal memiliki lekuk pantai yang eksotis untuk dipandang, dengan deretatan perahu tradisional nelayan setempat dengan ragam warna yang indah menjadikan pemandangan pantai sangat indah jika dilihat dari atas perbukitan.
Di sepanjang perjalanan menuju Pantai Amed, anda akan disuguhkan pemandangan khas pedesaan di bali. Sawah dengan terasiringnya dan juga rimbunan pepohonan yang membuat anda tidak bosan sepanjang perjalanan. Jika perlu, anda bisa melakukan kegiatan pemotretan ketika anda lelah. Selain itu anda akan disuguhkan keangungan gunung  Agung yang menjulang tinggi menjadi background yang menakjubkan untuk Laut Amed yang biru. Deretan perahu nelayan yang disebut Jukung bersandar rapi di pinggir pantai. Sungguh merupakan surga untuk para wisatawan.

Indahnya Pesona Bawah Laut Amed

Pantai Amed juga terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Memiliki terumbu karang yang masih terjaga, dengan peninggalan bangkai kapal Belanda yang karam disana, menjadikan dunia bawah laut Pantai Amed sebagai surga bagi ikan-ikan hias. Pantai ini adalah surga bagi para penyelam dan sudah terkenal ke seluruh dunia karena memiliki tekstur pantai yang berkoral, air laut yang bening dan tenang serta memiliki keindahan bawah laut yang tak terlukiskan. Objek Wisata Pantai Amed juga menawarkan akomodasi perhotelan dan restouran yang banyak dijumpai sepanjang jalan menuju ke pantai.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Pantai Amed Bali selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Pantai Lovina Bali

Pantai Lovina
Pantai Lovina ada sebuah pantai di utara Bali tepatnya di kabupaten Buleleng, kurang lebih 9 km arah barat dari kota Singaraja. Dari Denpasar tempat ini dapat ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 2 jam, dengan jalan yang berkelok-kelok. Dengan pantai yang masih alami dan banyaknya lumba-lumba menjadikan tempat ini ramai dikunjungi baik oleh wisatawan lokal maupun mancanegara yang ingin menyaksikan atraksi lumba-lumba terutama di pagi hari. Dengan menyewa perahu nelayan disana, kita dapat menyaksikan atraksi lumba-lumba ditengah laut.

Sejarah Lovina

Menyinggung sejarah Lovina, tentunya tidak bisa lepas dengan sosok Anak Agung Panji Tisna. Nama Panji Tisna sering ditulis Pandji Tisna. Sekitar 1950-an, Anak Agung Panji Tisna, pernah melakukan perjalanan ke beberapa negara di Eropa dan Asia. Apa yang menarik perhatian beliau terutama adalah kehidupan masyarakat di India. Dia tinggal beberapa minggu di Bombay (sekarang Mumbai). Cara hidup dan kondisi penduduk di sana, serta merta mempengaruhi cara pikir dan wawasan beliau ke depan untuk Bali, terutama pembangunan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Buleleng. Sementara itu, Panji Tisna juga melihat suatu tempat yang ditata indah untuk orang-orang berlibur di pantai. Tanah tersebut memiliki kesamaan dengan tanah miliknya di pantai Tukad Cebol - Buleleng - Bali Utara, yang juga terletak di antara dua buah aliran sungai. Inspirasi Panji Tisna muncul untuk membangun sebuah peristirahatan seperti itu.

Mulainya Pariwisata di Lovina

Kembali dari luar negeri pada tahun 1953, Anak Agung Panji Tisna segera menyatakan inspirasinya dan mulai membangun di tanah miliknya, sebuah pondok bernama "LOVINA". Tempat itu dimaksud untuk para “pelancong”, istilah sekarang “turis”, untuk berlibur. Dilengkapi dengan 3 kamar tidur utuk menginap dan sebuah restoran kecil dekat di pinggir laut. Waktu itu, beberapa pengamat bisnis mengkawatirkan, bahwa rencana Panji Tisna tidak akan berhasil seperti yang diharapkan. Terlalu awal waktunya untuk membuat usaha sejenis itu di pantai terpencil seperti pantai di Tukad Cebol.
Kemunculan lumba-lumba tidak dapat diprediksi, factor luckylah yang sangat berpengaruh. Disini juga telah tersedia fasilitas hotel, sehingga anda tidak perlu repot bangun pagi-pagi untuk berangkat ke tempat ini dari Denpasar untuk menyaksikan lumba-lumba. Namun anda tidak perlu berkecil hati karena anda dapat menyaksikan lumba-lumba yang disiapkan oleh beberapa tempat penginapan, dan lumba-lumba tersebut sudah terlatih. Perjalanan menuju ke Pantai Lovina dari Denpasar akan melewati banyak tempat-tempat wisata menarik seperti Bedugul, Candi Kuning, Air Terjun Git-Git dan banyak lagi.
Selain menyaksikan pertunjukan lumba-lumba ditempat ini juga sangat bagus untuk melakukan kegiatan menyelam. Ada banyak ragam ikan hias yang dapat anda temui di taman laut di daerah ini yang tak kalah indah disbanding hot spot menyelam lainnya di Bali.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Pantai Lovina Bali selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Monumen Bajra Sandhi Simbol Perjuangan Rakyat Bali

Monumen Bajra Sandhi
Monumen Bajra Sandhi merupakan monumen perjuangan rakyat Bali yang terletak di tengah-tengah lapangan puputan Renon, Denpasar – Bali. Monumen ini dibangun pada tahun 1987 dengan tujuan untuk mengabadikan jiwa dan semangat perjuangan rakyat Bali, sekaligus menggali, memelihara, mengembangkan serta melestarikan budaya Bali untuk diwariskan kepada generasi penerus sebagai modal melangkah maju menapak dunia yang semakin sarat dengan tantangan dan hambatan di era globalisasi saat ini. Lokasi monumen ini terletak di depan Kantor Gubernur Bali yang juga didepan Kantor DPRD Provinsi Bali Niti Mandala Renon. 

Sejarah Monumen Bajra Sandhi

Monumen kebanggaan masyarakat Bali ini menggambarkan semangat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang disimbolkan dengan adanya 17 anak tangga di pintu masuk monumen (melambangkan tanggal kemerdekaan RI), 8 buah tiang agung di dalam gedung monumen (melambangkan bulan kemerdekaan RI), dan monumen yang menjulang setinggi 45 meter (melambangkan tahun kemerdekaan RI). Monumen ini mulai di bangun pada tahun 1987 saat Gubernur Bali dijabat oleh Prof. DR. Ida Bagus Mantra dan diresmikan oleh Ibu Megawati Soekarno Putri selaku Presiden Republik Indonesia pada tanggal 14 Juni 2003. Di dalam Monumen Bajra Sandhi terdapat 33 diorama yang menggambarkan perjuangan Rakyat Bali dari zaman pra sejarah sampai perjuangan merebut kemerdekaan. 
Bentuk Monumen Bajra Sandhi ini diambil berdasarkan cerita Hindu pada saat Pemuteran Gunung Giri Mandara oleh para Dewa dan Raksasa untuk memperoleh tirta amertha. Dimana hal ini dapat dilihat dari : 
  1. Bangunan monumen yang menjulang dimana hal ini melambangkan Gunung Giri Mandara. 
  2. Guci Amertha dilambangkan dalam bentuk Kumba (periuk) tepat di bagian atas monumen. 
  3. Naga yang melilit melambangkan Naga Basuki yang digunakan sebagai tali saat pemuteran Gunung Giri Mandara. 
  4. Kura-kura yang terdapat di bagian bawah melambangkan Bedawang Akupa yang digunakan sebagai alas pemuteran Gunung. 
  5. Kolam yang terdapat disisi monumen merupakan simbol dari lautan susu yang mengelilingi Gunung Giri Mandara tempat beradanya Tirta Amertha. 
Secara vertikal, museum ini mengadopsi konsep Tri Angga, meliputi: 
  1. Utamaning Utama Mandala, yaitu lantai teratas gedung, dan digunakan sebagai Ruang Peninjauan. Dari sini kita dapat melihat suasana di sekitar gedung dengan jelas. Untuk mencapai tempat ini kita harus menaiki tangga melingkar yang cukup tinggi. 
  2. Madyaning Utama Mandala, yaitu lantai dua gedung, digunakan sebagai Ruang Stage Diorama. Di ruang ini kita dapat melihat 33 diorama yang menampilkan sejarah perkembangan dan pergerakan rakyat Bali dari masa ke masa. Selain diorama, ada juga keris 
  3. Nistaning Utama mandala, merupakan lantai dasar gedung ini. Di sini ada berbagai ruangan, meliputi Ruang Informasi, Ruang Administrasi, Ruang Pameran yang menampilkan foto-foto pahlawan dan peristiwa di Bali, Ruang Perpustakaan yang berisi buku-buku yang berkaitan dengan sejarah Bali, dan Ruang Rapat serta toilet. Selain ruangan-ruangan tersebut, di lantai dasar dapat juga dijumpai telaga yang berada di dasar bagian tengah gedung, dinamakan Puser Tasik. Di telaga ini terdapat delapan Tiang Agung. Di tengah kolam terdapat tangga yang menghubungkan lantai dasar sampai lantai teratas, dinamakan Tangga Tapak Dara.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Monumen Bajra Sandhi selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Taman Ujung Karangasem : Istana Warisan Kerajaan Karangasem

Taman Soekasada Ujung

Taman Ujung Objek Wisata Peninggalan Kerajaan Karangasem

Taman Ujung atau Taman Seokasada Karangasem terletak di Desa Tumbu Kecamatan Karangasem, Kabupeten Karangasem, sekitar 85 Km dari Kota Denpasar. Taman Ujung yang merupakan istana peninggalan Kerajaan Karangasem ini memadukan arsitektur tradisional Bali dan Eropa. Kompleks Taman Ujung ini memiliki 3 kolam besar yang dihubungkan oleh jembatan. Letaknya tak jauh dari pantai dan berada pada ketinggian, sehingga jika kita berada di sana, kita bisa memandang leluasa laut yang biru di bawah langit luas membentang. Di sisi lain kita juga bisa memandang kemegahan Gunung Agung yang permai. Sungguh pemandangan alam yang luarbiasa indah.

Sejarah Istana Taman Ujung atau Taman Soekasada

Menurut sejarahnya, istana Taman Ujung ini dibangun pada tahun 1919 oleh raja Karangasem terakhir yang bernama I Gusti Bagus Djelantik yang bergelar Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem, yang memerintah dari tahun 1909 – 1945.
Kerajaan Karangasem sebenarnya telah dihapuskan pada tahun 1908 oleh Belanda dan dirubah menjadi Gauverments Lanschap Karangasem dengan pimpinan seorang Stedehouder/ Regent yang bernama I Gusti Bagus Djelantik (Anak angkat Raja Ida Anak Agung Gde Djelantik). Beliau dianugerahi gelar oleh Belanda sebagai Ida Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem pada tahun 1928. Walaupun Belanda mengurangi dan terus mengurangi kekuasaan I Gusti Bagus Djelantik, namun secara umum rakyat Bali tetap memahami beliau sebagai Raja Karangasem, hingga kerajaan ini benar-benar terhapus dengan masuknya penjajahan Jepang. Beliau pula yang dikagumi sebagai seorang yang memiliki selera seni tinggi dan salah satu karya beliau adalah Taman Ujung ini. Tentu saja beliau melibatkan juga arsitek yang handal baik arsitek tradisional dari Bali, maupun arsitek dari Belanda dan China. Sehingga tidak heran, arsitektur taman ini memang bergaya campuran.
Taman ini pernah mengalami kerusakan pada tahun 1963 akibat letusan Gunung Agung dan gempa bumi yang terjadi di tahun 1979. Pada akhir tahun 1994 pemerintah melalui dinas kebudayaannya mulai melakukan inventaris mengenai kerusakan Taman Ujung ini dan dilanjutkan dengan melakukan perbaikan-perbaikan. Pada tahun 1999, Bank Dunia memberikan bantuan dengan melakukan studi konservasi yang dilakukan oleh Culture Heritage Conservation. Akhirnya pada tahun 2002, Bank Dunia memberikan bantuan dana untuk merekonstruksi Taman Ujung yang segera dipergunakan untuk memperbaiki pagar, gerbang, dan kolam. Pada tahun 2003, perbaikan dilanjutkan pada Bale Warak, Bale Gili, Bale Kambang, Bale Lanjuk, Bale Kapal, dan bangunan-bangunan lainnya. Proyek konservasi ini selesai seleruhnya pada bulan Mei 2004 dengan perkiraan biaya yang dihabiskan sekitar 10 milyar rupiah. Dan diresmikan pada tanggal 7 Juli 2004 oleh Gubernur Bali pada saat itu sebagai objek wisata melalui upacara adat Bali “melaspas”.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Taman Ujung selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Desa Adat Penglipuran Objek Wisata Budaya Menarik di Bali

Desa Penglipuran Bali

Desa Adat Tradisional Penglipuran Bali

Desa Adat Penglipuran adalah sebuah desa tradisional yang masih terjaga kealamiannya sampai sekarang. Desa Adat Penglipuran ini terletak di Kelurahan Kubu, Kabupaten Bangli, tepatnya di jalan utama Kintamani – Bangli. Tatanan kehidupan di desa ini terbilang unik dan belum tersentuh modernisasi, dengan arsitektur bangunan yang tertata apik satu dengan yang lainnya menjadikan desa ini memiliki karakteristik yang berbeda dengan desa-desa umumnya di Bali. Pintu gerbang atau yang sering disebut dengan “angkul-angkul” terlihat seragam satu dengan lainnya. Jalan utama desa adat ini berupa jalan sempit yang berudag-undag. Rumah masing-masing keluarga hamper seragam mulai dari pintu gerbang, bangunan suci (pemerajan), dapur, ruang tidur, ruang tamu, serta lumbung tempat penyimpanan hasil panen sawah berupa padi. Desa ini terletak di dataran yang tinggi yang membuat suasana desa ini sejuk, ditambah dengan tata ruang yang memberikan ruang terbuka lebih khususnya untuk pertamanan menjadikan desa ini terlihat asri. 

Sejarah Desa Adat Penglipuran

Menurut sejarah Desa Adat Penglipuran ini berasal dari kata “penglipur” yang artinya “penghibur”, karena pada jaman kerajaan dulu, desa ini sering dikunjungi oleh keluarga-keluarga kerajaan untuk menghibur diri karena suasana alamnya yang indah dan damai. Ada juga yang menyebut kata “Penglipuran” berasal dari kata “pengeling pura” yang artinya tempat yang suci untuk mengenang para leluhur. Sesuai dengan kosep yang ada, desa adat penglipuran dibagi menjadi tiga bagian yaitu bangunan suci yang terletak di hulu/ perumahan di tengah, dan lahan usaha tani di pinggir atau hilir. Di Pura Penataran/ masyarakat desa adat penglipuran memuja Dewa Brahma manifestasi Ida Sang Hyang Widi sebagai pencipta alam semesta beserta isinya. Dan masyarakat Desa Adat Penglipuran percaya bahwa leluhur mereka berasal dari Desa Bayung Gede, Kintamani .Dilihat dari segi tradisi, desa adat ini menggunakan sistem pemerintahan hulu apad. Pemerintahan desa adatnya terdiri dari prajuru hulu apad dan prajuru adat. Prajuru hulu apad terdiri dari jero kubayan, jero kubahu, jero singgukan, jero cacar, jero balung dan jero pati. Prajuru hulu apad otomatis dijabat oleh mereka yang paling senior dilihat dari usia perkawinan tetapi yang belum ngelad. Ngelad atau pensiun terjadi bila semua anak sudah kawin atau salah seorang cucunya telah kawin. Mereka yang baru kawin duduk pada posisi yang paling bawah dalam tangga keanggotaan desa adat. Menyusuri jalan utama desa kearah selatan anda akan menjumpai sebuah tugu pahlawan yang tertata dengan rapi. Tugu ini dibangun untuk memperingati serta mengenang jasa kepahlawanan Anak Agung Gede Anom Mudita atau yang lebih dikenal dengan nama Kapten Mudita. Anak Agung Gde Anom Mudita, gugur melawan penjajah Belanda pada tanggal 20 November 1947. Taman Pahlawan ini dibangun oleh masyarakat Desa Adat Penglipuran sebagai wujud bakti dan hormat mereka kepada sang pejuang. Bersama segenap rakyat Bangli, Kapten Mudita berjuang tanpa pamrih demi martabat dan harga diri bangsa sampai titik darah penghabisan. 
Desa Adat Penglipuran ini termasuk desa yang sering melakukan kegiatan ritual keagamaan, dan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani. Dan desa ini pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru dari pemerintah dan juga ditetapkan pula sebagai desa wisata oleh pemerintah daerah di tahun 1995.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Desa Adat Penglipuran selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Tanjung Benoa Wisata Water Sport di Bali

Water Sport Tanjung Benoa Bali

Tanjung Benoa Pusat Water Sport

Tanjung Benoa adalah salah satu wisata menarik di Bali, khususnya bagi anda yang suka dengan olah raga air. Tempat ini menyajikan beragam wisata air yang dapat anda nikmati dengan menyewa peralatan yang banyak disewakan oleh pelaku wisata disepanjang pantai Tanjung Benoa ini. Tempat ini berdekatan dengan Pantai Nusa Dua yang terkenal akan resortnya, dan dapat ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 15 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali. Dengan suasana pantai berpasir putih dan ombak yang sedang, menjadikan tempat ini menjadi tempat yang ideal untuk melakukan aktifitas olah raga air. Sarana water sport yang disediakan di tempat ini antara lain Jetski, Banana Boat, Parasailing, Snorkling, Scuba Diving, dan masih banyak lagi. 

Pusat Penangkarang Penyu di Pulau Penyu

Selain olahraga air, dari Pantai Tanjung Benoa wisatawan juga bisa mengunjungi Pulau Penyu yang membutuhkan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit dengan menggunakan perahu yang bisa disewa dilokasi. Pulau penyu merupakan tempat pengembangbiakan berbagai spesies penyu yang hampir punah. Di lokasi ini pengunjung bisa melihat langsung dan bertanya seputar proses pengembangbiakan penyu. Penyu-penyu yang ada dipisahkan di berbagai tempat berdasarkan ukuran tubuhnya., ada yang masih berukuran jari hingga yang cukup besar dengan berat hingga puluhan kilo. Di pulau ini juga terdapat berbagai binatang lain seperti ular, kelelawar dan burung langka. Pengunjung diperbolehkan untuk memegang binatang-binatang tersebut serta berfoto bersama. 
Jika anda melakukan perjalanan ke Pulau Penyu, anda juga bisa melihat objek wisata bawah laut. Perahu yang digunakan, telah didesain sedemikian rupa sehingga pada bagian dasar tengah perahu telah dipasang kaca yang memungkinkan bagi pengunjung untuk melihat dasar laut yang dangkal tanpa perlu berbasah. Dari dalam perahu pengunjung bisa melihat ikan-ikan khas air laut yang kaya akan warna di bagian tubuhnya. Agar ikan-ikan tersebut mau berkumpul pengemudi kapal menebarkan roti tawar kelaut sebagai pancingan. Tidak butuh waktu lama untuk menunggu ikan tersebut untuk datang, sayangnya jenis ikan yang datang kurang bervariasai sehingga kurang menarik untuk dinikmati.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Tanjung Benoa selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Garuda Wisnu Kencana (GWK) - Simbol Kemegahan Pulau Dewata

GWK

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (Garuda Wisnu Kencana Cultural Park)

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (Garuda Wisnu Kencana Cultural Park), disingkat GWK, adalah sebuah taman wisata di bagian selatan pulauBali. Taman wisata ini terletak di Tanjung Nusa Dua, Kabupaten Badung, kira-kira 40 kilometer di sebelah selatan Denpasar, ibu kota provinsi Bali. Di areal taman budaya ini, direncanakan akan didirikan sebuah landmark atau maskot Bali, yakni patung berukuran raksasa Dewa Wisnu yang sedang menunggangi tunggangannya, Garuda , setinggi 12 meter. Patung ini dibuat oleh seorang pematung terkenal Bali yang bernama I Nyoman Nuartha. Pembuatan patung Garuda Wisnu Kencana ini setidaknya melibatkan 100 orang pematung dan dikerjakan di NuArt Studio di kawasan Setra Duta, Sarijati, Bandung, Jawa Barat. Patung yang digadang-gadang akan mengalahkan tingginya patung Liberty di Amerika Serikat ini di kerjakan selama kurang lebih 3 tahun, dan dikirim ke Bali dalam irisan-irisan melintang untuk kemudian dirakit kembali di Bali. Para pengujung dapat menaiki patung ini dengan lift khusus didalam tubuh patung GWK yang setinggi dada. Di dalam ketinggian rongga GWK, para wisatawan dapat menyaksikan keindahan Pulau Dewata
Area Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana berada di ketinggian 146 meter di atas permukaan tanah atau 263 meter di atas permukaan laut. Di kawasan itu terdapat juga Patung Garuda yang tepat di belakang Plaza Wisnu adalah Garuda Plaza di mana patung setinggi 18 meter Garuda ditempatkan sementara. Pada saat ini, Garuda Plaza menjadi titik fokus dari sebuah lorong besar pilar berukir batu kapur yang mencakup lebih dari 4000 meter persegi luas ruang terbuka yaitu Lotus Pond. Pilar-pilar batu kapur kolosal dan monumental patung Lotus Pond Garuda membuat ruang yang sangat eksotis. Dengan kapasitas ruangan yang mampu menampung hingga 7000 orang, Lotus Pond telah mendapatkan reputasi yang baik sebagai tempat sempurna untuk mengadakan acara besar dan internasional. Terdapat juga patung tangan Wisnu yang merupakan bagian dari patung Dewa Wisnu. 
Ini merupakan salah satu langkah lebih dekat untuk menyelesaikan patung Garuda Wisnu Kencana lengkap. 
Karya ini ditempatkan sementara di daerah Tirta Agung GWK mempunyai beberapa tempat rekreasi di antaranya: 

Wisnu Plaza

Wisnu Plaza adalah tanah tertinggi di daerah GWK dimana tempat kita sementara merupakan bagian paling penting dari patung Garuda Wisnu Kencana patung Wisnu. Pada waktu tertentu hari, akan ada beberapa kinerja tradisional Bali dengan megah patung Wisnu sebagai latar belakang. Karena lokasinya yang tinggi, Anda dapat melihat panorama sekitarnya. Patung Wisnu, sebagai titik pusat dari Wisnu Plaza, dikelilingi oleh air mancur dan air sumur di dekatnya suci yang katanya tidak pernah kering bahkan pada musim kemarau. Parahyangan Somaka Giri ditempatkan di sebelah patung Wisnu. Ini tempat air berada, yang secara historis telah dipercaya oleh rakyat di daerah tersebut sebagai berkat dengan kekuatan magis yang kuat untuk menyembuhkan penyakitnya dan meminta para dewa hujan selama musim kemarau. Karena lokasinya di tanah tinggi (di atas bukit), fenomena alam ini dianggap orang suci dan lokal diyakini itu menjadi air suci. 

Street Theater

Street Theater adalah titik awal dan akhir kunjungan ke Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Di sini kita dapat menemukan banyak toko dan restoran di satu tempat dan dimana semua perayaan terjadi. Anda bisa mendapatkan souvenir Bali dan merchandise GWK khususnya di GWK Souvenir Shop dan Bali Art Market. Kita bahkan dapat menemukan spa Bali dan produk aromaterapi di toko ini. Sementara di sini, mengapa tidak mencoba pijat refleksi kaki Bali setelah berjalan-jalan. Kita bisa mencicipi makanan yang baik dengan harga terbaik hanya di pengadilan makanan kita, Makanan Teater, dan restoran terbaru kami, The Beranda dengan paket all you can eat. Pada beberapa kali sehari, kita dapat menikmati belanja dan makan sambil ditemani kinerja Bali khususnya seperti barong, rindik dan parade. 

Lotus Pond

Lotus Pond adalah area outdoor terbesar di Garuda Wisnu Kencana (GWK) dan Taman Budaya, kemungkinan terbesar di Bali. Dengan demikian, Lotus Pond adalah tempat yang tepat dan hanya untuk mengadakan acara outdoor skala besar. Selama bertahun-tahun, GWK telah dipercaya untuk skala besar diadakan, baik nasional maupun internasional, acara di Lotus Pond seperti konser musik, pertemuan internasional, partai besar. Lotus Pond adalah tempat yang unik dengan pilar batu kapur di sisi dan patung megah Garuda di latar belakang. Lotus Pond berawal dari teratai. Teratai adalah simbol utama keindahan, kemakmuran, dan kesuburan. Wisnu juga selalu membawa bunga teratai di tangannya dan hampir semua dewa dari dewa Hindu yang duduk di teratai atau membawa bunga. Beberapa fakta menarik adalah bahwa tanaman teratai tumbuh di air, memiliki akar dalam ilus atau lumpur, dan menyebarkan bunga di udara di atas. Dengan demikian, teratai melambangkan kehidupan manusia dan juga bahwa kosmos. Akar teratai tenggelam dalam lumpur merupakan kehidupan material. Tangkai melewatkan melalui air melambangkan eksistensi di dunia astral. Bunga mengambang di atas air dan membuka ke langit adalah emblematical spiritual sedang. 

Indraloka Garden

Taman Indraloka atau Indraloka Garden ini diberi nama Indraloka setelah surga Dewa Indra karena pandang panorama yang indah. Indraloka Garden adalah salah satu tempat paling favorit di Garuda Wisnu Kencana untuk mengadakan pesta kecil menengah, pengumpulan dan upacara pernikahan. Kita bisa melihat pemandangan Bali dari atas Indraloka Garden. 

Amphitheater

Amphitheatre adalah tempat di luar ruangan untuk pertunjukan khusus dengan akustik yang dirancang dengan baik. Setiap sore Anda bisa menonton Tari Kecak yang terkenal dan gratis yaitu sekitar pukul 18.30 s/d 19.30 wita. Bahkan Tari Kecak ini dapat dikolaborasikan dengan tarian daerah lainnya. 

Tirta Agung

Tirta Agung adalah ruang luar yang sempurna untuk acara menengah. Anda juga dapat mengunjungi patung Tangan Wisnu, bagian dari patung Garuda Wisnu Kencana yang terletak di dekatnya.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Garuda Wisnu Kencana selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Goa Gajah - Objek Wisata Spiritual di Ubud

Goa Gajah

Goa Gajah Pura Dari Abad Ke 11

Goa Gajah terletak di desa Bedulu, kecamatan Blahbatuh, kabupaten Gianyar. Tempat ini dapat ditempuh lebih kurang 45 menit dari kota Denpasar. Goa Gajah merupakan tempat wisata bersejarah berupa goa dengan artefak-artefaknya. Tempat ini menjadi menarik karena dikelilingi oleh persawahan dan sungai kecil. Goa Gajah pada dasarnya adalah sebuah goa dimana terdapat peninggalan sejarah Bali masa lampau. Namun tidak hanya artefak sejarah yang ada tapi juga suasana alamnya yang begitu indah dan memikat. Objek wisata ini juga dikelilingi persawahan dan sungai dengan air yang selalu mengalir. Ada empat kompleks di Goa Gajah yaitu kompleks goa dengan relief Ganesha, Trilingga, Petirtaan (tempat mandi), dan lembah Tukad Pangkung dimana terdapat relief stupa bercabang tiga, relief payung bersusun 13, dan arca Budha. 

Sejarah Pura Goa Gajah

Asal-usul Goa Gajah belum dapat diketahui secara pasti. Menurut kitab Jawa Kuno, Negarakertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi, nama Goa Gajah berasal dari kata "Lwa Gajah", Lwa berasal dari lwah atau loh yang berarti air atau sungai dan Gajah adalah nama sungai yang sekarang disebut sungai Petanu. Pendapat lain mengatakan nama Goa Gajah berasal dari arca Ganesha yang berada di dalam gua pada sudut barat laut di mana arca Ganesha tersebut kepalanya memakai belalai seperti gajah. Pada prasasti Dawan tahun 975 Saka dan prasasti Pandak Bandung menyebutkan nama pertapaan "Antakunjarapada". Bila ditinjau dari arti kata 'kunjara' yang berarti gajah, dan 'anta' yang berarti akhir atau batas, sedangkan 'pada' berarti tempat atau wilayah. Dengan demikian Antakunjarapada berarti tempat pertapaan yang terletak pada perbatasan wilayah Air Gajah, yang sekarang disebut Goa Gajah. Pertapaan Goa Gajah yang dalam bahasa Sansekerta disebut Antakunjarapada dapat dihubungkan dengan pertapaan Kunjarakunja yang berada di India selatan di lereng Gunung Kunjara, tempat kediaman Rsi Agastya yang sekarang disebut Agastya-malai. Lingkungan sekitar pertapaan Kunjarakunja yang berada di pegunungan di tepi aliran sungai Tamraparni yang diperkirakan menjadi konsep penamaan pertapaan Goa Gajah. 
Di bagian luar gua ini terdapat kolam dengan pancuran yang merupakan tempat mengambil air suci untuk keperluan upacara. Kolam yang pada mulanya tertimbun, baru ditemukan pada tahun 1954 oleh Krijgsman dari Dinas Purbakala saat itu. Dan arca-arca yang terdapat pada pancuran merupakan arca bidadari-bidadari yang mungkin jumlah sebenarnya ada 7 buah tetapi hanya ditemukan 5 buah. Arca-arca itu terbagi dalam 2 kelompok, yang masing-masing ada 3 pancuran berjejer dan satu di tengah-tengah tidak ada. Tujuh pancuran sebagai tempat mengambil air suci mengambil konsep 'sapta tirta' yaitu 7 air suci yang memiliki nilai kesucian sama dengan 'sapta nadi' yaitu 7 sungai yang disucikan di India antara lain sungai Gangga, sungai Sindhu, sungai Saraswati, sungai Yamuna, sungai Godawari, sungai Serayu, dan sungai Darmada. Pada saat ini, peninggalan purbakala Goa Gajah menjadi sebuah pura yaitu Pura Goa Gajah yang diayomi oleh masyarakat setempat.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Goa Gajah selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Pura Goa Lawah Objek Wisata Spiritual di Bali

Pura Goa Lawah

Pura Goa Lawah Dengan Ribuan Kelelawarnya

Pura Goa Lawah merupakan pura kahyangan jagad yang sangat disucikan oleh umat Hindu di Bali yang terletak di Desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, Kabupaten Klungkung Bali. Pura Goa Lawah oleh Agama Hindu merupakan pura tempat pemujaan Tuhan dalam manifestasinya sebagai Dewa Laut. Pura Goa Lawah ini sangat menarik untuk dikunjungi karena letaknya yang strategis dipinggir pantai dengan pemandangan laut dan pulau Nusa Penida di sebelah selatan pura. Selain menyaksikan keindahan panorama lautnya, ditempat ini sering diadakan upacara yang dilakukan umat Hindu dan juga banyaknya kelelawar yang bergelantungan di bibir goa.

Sejarah Pura Goa Lawah

Dalam sejarahnya keberadaan Pura Goa Lawah ini dapat ditemui dalam lontar Usana Bali dan juga lontar Babad Pasek. Dimana dijelaskan disana bahwa Pura Goa Lawah ini di bangun oleh Mpu Kuturan pada abad XI masehi, dalam dijelaskan pula bahwa Mpu Kuturan membangun beberapa Pura dalam perjalanan spiritualnya di Bali dan salah satunya adalah Pura Goa Lawah. Menurut kepercayaan Hindu, setelah melakukan upacara Atma Wedana (Memukur / Maligya) maka umat Hindu melaksanakan upacara Nyegara Gunung yang memiliki makna ke Segara (laut) dan ke Gunung yang mana upacara ini memiliki fungsi sebagai permakluman secara ritual bahwa atman keluarga yang diupacarai itu telah mencapai Dewa Pitara. Dan umumnya umat Hindu melakukan upacara Nyegara Gunung di Pura Goa Lawah (Segara) dan di Pura Besakih (Gunung).

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Goa Lawah selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Kertagosa Wisata Bersejarah di Bali

Kertagosa

Bangunan Pengadilan dari Jaman Kerajaan Klungkung

Kertagosa adalah sebuah kompleks bangunan kuno dari masa pemerintahan Raja Klungkung Pertama yang bergelar Dewa Agung Jambe pada abad ke-17. Kompleks bangunan ini terdiri dari dua bangunan pokok, yaitu Bangunan Taman Gili dan Bangunan Kertagosa. Bangunan Kertagosa pada zaman dahulu mempunyai beberapa fungsi antara lain sebagai tempat persidangan yang dipimpin langsung oleh raja sebagai hakim tertinggi, sebagai tempat pertemuan raja-raja yang ada di Bali dan sebagai tempat melaksankan upacara-upacara keagamaan khususnya upacara manusa yadnya bagi keluarga kerajaan. 
Pada jaman penjajahan Belanda, tempat ini dikuasai dan dipergunakan sebagai tempat balai sidang pengadilan. Struktur bangunan Taman Gili dan Kertagosa ini terdiri atas dua lantai dan atap bangunannya terbuat dari ijuk dengan dilengkapi anak tangga untuk naik ke lantai dua. Pada langit-langit bangunan terdapat hiasan berupa lukisan-lukisan bermotif wayang yang mengisahkan cerita pewayangan. 
Kertagosa ini terletak tepat di tengah-tengah jantung kota Klungkung, tepatnya disebalah selatan Kantor Bupati Klungkung. Dari Denpasar dapat ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 1 jam. Jika anda melakukan perjalanan wisata ke Besakih, maka anda akan melewati tempat bersejarah ini.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Kertagosa selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Bali Tour | Wisata - Bukit Jambul

bukit jambul

Indahnya Sawah Terasering di Bukit Jambul

Bukit Jambul adalah sebuah destinasi wisata yang terletak di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem yang berbatasan dengan Kabupaten Klungkung. Jika anda melakukan perjalanan Besakih Tour maka anda akan melewati tempat yang indah ini. Di tempat ini anda dapat menyaksikan keindahan panorama sawah berundak dengan latar belakang pemandangan laut biru diantara barisan bebukitan nan hijau. Sebuah pemandangan yang indah apalagi sambil menikmati makan siang ditemani dengan desiran angin nan lembut akan memberikan suasana yang berbeda bagi anda dalam melakukan perjalanan wisata. Terletak di ketinggian 500 m diatas permukaan laut memberikan suasana sejuk sepanjang hari di tempat ini. Bukit Jambul ini dapat ditempuh dengan berkendara selama kurang lebih 1 – 1,5 jam dari kota Denpasar. 

Sejarah Bukit Jambul

Dinamai Bukit Jambul karena tepat diatas sebelah barat bukit terdapat pohon yang sangat besar dan rimbun, rimbunnya pepohonan di atas bukit itu terlihat seperti jambul, dan pohon tersebut masih berdiri sampai sekarang. Diatas Bukit Jambul ini terdapat sebuah pura yang bernama Pura Ulun Carik, pura untuk memuja dewi kemakmuran yang dipuja oleh para petani.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Bukit Jambul selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Tempat Wisata Menarik di Bali | Alas Kedaton

Alas Kedaton Bali

Alas Kedaton Wisata Hutan Lindung

Alas Kedaton merupakan salah satu tempat wisata menarik di bali berupa kawasan hutan lindung tempat tinggal sekitar 300-an monyet yang terletak di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Bali. Karena memiliki hutan yang masih terjaga kealamiannya, maka selain merupakan tempat tinggal monyet-monyet, ditempat ini juga dapat ditemui beragam satwa lainnya salah satunya adalah Kalong, kelelawar dengan sayap yang panjang dan besar yang seing dijumpai bergelantungan di pohon untuk menunggu datangnya malam. Untuk dapat sampai ke tempat ini, dapat ditempuh sekitar 15 menit dari kota Tabanan dan menjadi jalur persinggahan jika anda melakukan perjalanan wisata menuju objek wisata Bedugul.

Pura Alas Kedaton

Seperti halnya tempat-tempat lainnya di Bali, di tempat ini juga terdapat sebuah pura yang disucikan oleh masyarakat sekitar dan diberi nama Pura Dalem Kahyangan atau lebih dikenal dengan Pura Alas Kedaton. Namanya monkey forest, maka tidak ayal anda akan menjumpai kera-kera yang liar, jadi anda sebaiknya memperhatikan barang-barang bawaan anda, karena banyak kera-kera disini yang berbuat usil dengan mengambil barang bawaan tamu. Di pintu masuk menuju kawasan ini juga sudah tersedia pedagang yang menjajakan makanan untuk diberikan kepada monyet-monyet disini.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Alas Kedaton selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Jam Pelayanan :

Senin - Jumat : 09.00 - 17.00 Wita

Sabtu : 09.00 - 15.00 Wita

Tour Reservation