Selamat Datang di Website Diwira Travel manage by PT. Diwira Wisata Indonesia. Kami menawarkan Paket Tour di Bali dan Lombok. Silahkan menghubungi kami di nomor telpon (0361) 8311135 atau via whatshapp di nomor 082341134613.

Pages

Candidasa Bali

Candidasa Bali

Candidasa adalah sebuah kota pantai dipesisir timur pulau Bali, dengan lagoon yang indah tempat yang cocok untuk menyaksikan sunrise di pagi hari

Pantai Lovina

Lovina Bali

Pantai Lovina adalah sebuah pantai di utara Bali yang banyak dikunjungi wisatawan untuk menyaksikan atraksi lumba-lumba di tengah laut.

Tanah Lot

Tanah Lot Bali

Tanah Lot merupakan salah satu destinasi wisata favorit di Bali, dengan hamparan pemandangan laut dengan pura yang berdiri di atas tebing menjadikan daerah ini banyak dikunjungi wisatawan baik local maupun domestik.

Pantai Amed

Pantai Amed Bali

Pantai Amed juga terkenal dengan keindahan bawah lautnya, yang memiliki terumbu karang yang masih terjaga sangat ideal untuk melakukan aktifitas diving.

Pantai Jimbaran

Jimbaran Bali

Pantai Jimbaran menyajikan keindahan pasir pantainya dan pemandangan sunset di sore hari. Yang membedakan dengan pantai-pantai tujuan wisata lainnya di Bali adalah pantai ini merupakan destinasi wisata kuliner pantai

Tampilkan postingan dengan label Tempat-tempat Wisata di Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tempat-tempat Wisata di Bali. Tampilkan semua postingan

Meriahnya Pawai Ogoh-ogoh di Bali

Ogoh-ogoh Bali
Nyepi merupakan perayaan pergantian tahun dalam kalender bali “Icaka” yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali. Dimana pada hari tersebut seluruh umat Hindu menghentikan seluruh aktifitasnya, dan melakukan “berata" atau puasa. Seluruh aktifitas baik perkantoran, perusahaan, pemerintahaan dan pelayanan umum termasuk bandara ditutup, namun untuk pelayanan rumah sakit tetap buka. Makna hari raya nyepi adalah untuk memohon kehadapan Tuhan Yang Maha Esa untuk menyucikan alam microcosmos atau alam manusia, dan alam macrocosmos atau alam semesta.
Dalam perayaannya, terdapat rangkaian kegiatan upacara yang diawali dengan upacara melasti atau mekiis dan dilakukan tiga atau dua hari sebelum Nyepi yang bertujuan untuk menyucikan diri sendiri dari perbuatan jahat di masa lalu dan membuangnya ke laut. Selain itu dalam rangkaian kegiatan melasti juga dilakukan pembersihan dan penyucian terhadap benda sakral dari pura-pura (pralingga atau pretima) dan segala perlengkapannya dengan melakukan pembersihan ke laut atau mata air lainnya yang disucikan.
Sehari sebelum perayaan Nyepi tepatnya pada tilem kesanga (bulan ke-9 dalam kalender Icaka) dilakukan upacara Pecaruan atau Buta Yadnya. Tujuan dilaksanakannya upacara ini adalah untuk momohon agar para buta kala tidak mengganggu umat yang akan melaksanakan berata penyepian dengan memberikan aneka sesajen berupa nasi manca warna, ayam berumbun (ayam warna-warni) dan tetabuhan berupa arak atau tuak. Diharapkan dengan melaksanakan upacara ini segala leteh atau kotor akan hilang atau sirna.
Rangkaian upacara ini ditutup dengan melakukan pawai ogoh-ogoh yang merupakan symbol perwujudan bhuta kala, yang diwujudkan berupa patung yang besar dan menakutkan yang biasanya dalam wujud raksasa. Ogoh-ogoh ini diarak dengan mengelilingi desa dan kemudian dibakar. Tujuannya yaitu untuk mengusir bhuta kala dari lingkungan desa yang dikelilingi tersebut. Dalam pelaksanaanya pawai ogoh-ogoh ini ada yang dilombakan, sehingga bentuk ogoh-ogoh pun beragam dengan berbagai sentuhan seni sehingga menarik untuk dilihat. Sehingga kesan ogoh-ogoh tidak lagi seram, namun malah menjadi daya tarik untuk dinikmati. Para seniman mengejawantahkan rupa ogoh-ogoh ini dalam bentuk yang menyerupai orang-orang terkenal seperti took-tokoh politik, artis, kartun dan lain sebagainya. Walaupun hal ini menyimpang dari ogoh-ogoh itu sendiri, namun hal ini merupakan kreatifias umat Hindu dalam mempertahankan eksistensi ogoh-ogoh itu sendiri.

Prosesi Upacara Ngaben di Bali

Upacara Ngaben
Ngaben adalah ritual upacara pembakaran mayat yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali. Upacara ini dilakukan untuk menyucikan roh orang yang telah meninggal agar mendapatkan tempat yang layak di surga, dan diharapkan nantinya dimudahkan bereinkarnasi kembali. Upacara ngaben tidak serta merta dilakukan saat orang tersebut meninggal dunia, tetapi bagi keluarga yang mampu mungkin dapat melakukan upacara ngaben dengan segera, tetapi bagi yang kurang mampu mereka memilih menguburkannya dulu dan baru melaksanakan ngaben di kemudian hari jika dirasa mereka sudah mampu untuk melaksanakannya. Disamping itu bagi orang yang meninggal dengan cara yang tidak wajar seperti bunuh diri, biasanya akan dikuburkan terlebih dahulu dan mereka akan menunggu sampai kurang lebih 3 tahun baru mereka akan melaksanakan upacara ngaben. Menurut beberapa kepercayaan Hindu orang yang matinya dengan tidak wajar rohnya diwajibkan untuk “ngayah” di Pura Dalem terlebih dahulu, untuk melakukan penebusan dosa. Sehingga diharapkan setelah melewati masa tersebut roh tersebut sudah siap untuk bereinkarnasi.
Saat ini upacara ngaben sudah mulai dilakukan secara masal, sehingga dapat mengurangi biaya yang harus dikeluarkan, dan biasanya mereka menguburkan dulu jasad orang yang meninggal sampai adanya rencana untuk melaksanakan ngaben masal. Ngaben masal ini biasanya dilakukan oleh masing-masing klan yang ada dalam masyarakat Hindu Bali. Teteapi bagi keluarga yang mampu mereka biasanya tidak akan menunggu lama untuk melaksanakan upacara ngaben ini. Untuk hari baiknya biasanya keluarga yang punya upacara terlebih dahulu menanyakan kepada pendeta kapan hari baik untuk melaksanakan upacara ngaben tersebut.
Rangkaian upacara ngaben ini dimulai dengan melakukan pemandian jenasah atau mungkin diganti dengan kayu cendana jika yang meninggal dikuburkan terlebih dahulu atau mungkin bahkan ada dengan mengambil kembali tulang orang yang sudah dikuburkan tersebut. Jenasah atau penggantinya tersebut didandani mengenakan pakaian selanjutnya dimasukkan ke peti atau bade dan kemudian diusung beramai-ramai menuju kuburan. Selanjutnya di kuburan jenasah dan bade tersebut dibakar dan abunya akan dikumpulkan kedalam buah kelapa gading untuk kemudian dilarung atau dihanyutkan ke sungai yang mengalir sampai ke laut, karena di laut merupakan tempat yang paling suci.

Mengenal Tradisi Perang Pandan di Desa Adat Tenganan Bali

Perang Pandang di Desa Tenganan
Perang Pandan atau mekare-kare merupakan satu tradisi sakral yang dilakukan oleh masyarakat Desa Adat Tenganan di Kabupaten Karangasem Bali secara turun temurun. Upacara ini biasanya dilakukan selama dua hari berturut-turut, pada saat sasih kapat (bulan keempat dalam penanggalan kalender Bali) dimana saat itu dilaksanakan upacara yang disebut Ngusabe Kapat. Upacara ini dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Indra sebagai Dewa Perang, karena masyarakat Hindu disana menganut aliran kepercayaan terhadap Dewa Indra.
Peserta perang pandan ini adalah pemuda desa tersebut dan ada juga peserta dari luar desa. Pemuda desa adalah bagian inti dari peserta perang pandan ini dan pemuda dari desa lain sebagai peserta pendukung, namun bagi peserta dari desa lain harus tetap mengenakan pakaian khas tenganan yaitu kain tenun pagringsingan. Bagi pemuda desa adat Tenganan, ini adalah sarana pembuktian bahwa seorang pemuda sudah mulai menginjak dewasa. Adapun peralatan yang digunakan dalam perang pandan ini adalah seikat daun pandan berduri sebagai senjata dan tameng yang terbuat dari rotan. Masing-masing peserta akan diberikan seikat daun pandan berduri dan tameng, tidak ada aturan dalam pertarungan ini, namun ada wasit yang bertindak sebagai penengah. Pertarungan ini akan diiringi oleh musik gambelan selonding, dimana gambelan ini berbeda dengan gambelan lainnya dimana alat gambelan ini hanya boleh dimainkan oleh orang khusus yaitu orang yang disucikan dan alat ini tidak boleh menyentuh tanah dan hanya dipergunakan pada hari-hari tertentu saja. Para peserta akan menari sambil sekali-sekali saling menyerang dan bergulat berusaha untuk menggoreskan duri daun pandan ke tubuh musuhnya. Pertarungan ini berlangsung singkat, kurang lebih 1 menit dan dilakukan secara bergilir sampai kurang lebih selama 3 jam. Setelah perang selesai, peserta yang terluka akan diolesi dengan ramuan tradisional yang bahan dasarnya terbuat dari kunir (kunyit).
Tidak ada peserta yang dinyatakan menang ataupun kalah, dan tidak ada dendam diantara mereka, karena semua itu mereka sadari sebagai sebuah persembahan kepada Dewa Indra, dewa yang sangat dihormati oleh masyarakat disana. Setelah perang usai, peserta akan melakukan persembahyangan di pura setempat dan dilanjutkan dengan makan bersama yang disebut “megibung”, sebagai makna kebersamaan.
Itulah salah satu tradisi turun temurun yang masih dilestarikan oleh masyarakat Tenganan sampai sekarang.

Meriahnya Bali Kite Festival

Bali Kite Festival
Bali Kite Festival atau lomba layang-layang Bali adalah event tahunan yang digelar Pemerintah Daerah Bali, biasanya dilaksanakan antara bulan Juli dan Agustus tergantung musim angin yang memenuhi syarat untuk bisa dilakukannya lomba tersebut. Festival layang-layang ini diikuti oleh banjar-banjar yang ada di seputaran Denpasar, Badung, dan Gianyar. Tempat dilaksanakannya event ini di Pantai Padanggalak Sanur, Bali.
Bali Kite Festival sudah berlangsung dari tahun 1979 dan diikuti oleh banyak peserta dari International Kite Flying Club. Layang-layang merupakan tradisi turun temurun dalam kehidupan masyarakat Bali, khususnya masyarakat yang berprofesi sebagai petani. Disela-sela kegiatannya dalam bercocok tanam dan menggembalakan ternak, mereka mengisi waktunya dengan memainkan layang-layang tersebut. Dan mereka melakukan kegiatan tersebut sebagai penghormatan yang dipersembahkan kepada Dewa Rare Angon, yang merupakan dewa penjaga persawahan di Bali.
Dalam setiap lombanya selalu ditampilkan bermacam bentuk layangan kreasi dan dengan ukuran yang bervariasi. Ada yang namanya layangan bebean yaitu layangan yang berbentuk ikan, layangan pecuk berbentuk daun, layangan janggan berbentuk naga dan lain-lainnya. Para peserta akan berusaha untuk menampilkan layang-layang terbaiknya. Penjurian dilakukan dengan melihat komposisi, lamayanya melayang di udara, dan kemampuan menari di udara. Peserta yang menang akan memperoleh uang pembinaan dan trophy. Inilah salah satu program pemerintah Bali untuk melestarikan dan mengembangkan budaya Bali agar tetap eksis selamanya.

Pesta Kesenian Bali (PKB)

Pesta Kesenian Bali
Pesta Kesenian Bali (PKB) merupakan event tahunan yang diprogram oleh Pemerintah Propinsi Bali. Ajang tahunan ini merupakan wujud kepedulian pemerintah propinsi Bali untuk melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya dan seni. Pesta kesenian ini dijadikan ajang untuk menyalurkan aktifitas dan kreativitas seniman yang didasari oleh motivasi sebagai persembahan dan karya cipta terbaik insan seni.
Pada setiap pergelaran event ini selalu mengambil tema yang berhubungan dengan pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya dan seni yang adi luhung. Disamping sebagai media untuk menyalurkan seni, ajang ini juga dijadikan sebagai wahana untuk meningkatkan kesejahteraan para seniman. Dimana disetiap eventnya selalu disediakan stand-stand promosi yang dapat digunakan oleh para pelaku seni untuk mempromosikan hasil karya terbaiknya.
Sejarah Pesta Kesenian Bali ini tidak terlepas dari peran seorang budayawan dan pemimpin Bali yang sangat peduli dengan kelestarian kesenian Bali, beliau adalah Almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra sejak tahun 1979. Beliau menggagas dan memprakarsai suatu wadah pesta rakyat, yang sampai sekarang disebut Pesta Kesenian Bali. Pesta Kesenian Bali (PKB) untuk pertama kalinya berlangsung pada tanggal 20 Juni 1979 sampai 23 Agustus 1979 selama 2 bulan. Dan setelahnya event ini digelar selama satu bulan dalam tiap tahunnya. Dengan adanya event ini dari tahun ke tahun memberikan nuansa tersendiri khususnya bagi masyarakat Bali.
Disetiap kegiatan pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) selalu diawali dengan parade kesenian yang menampilkan kesenian-kesenian dari semua kabupaten / kota di Bali dan juga dari luar Bali bahkan dari beberapa Negara Asia. Parade tersebut biasanya dilaksanakan di seputaran Renon dan berakhir di Taman Budaya Art Center. Dalam kegiatan parade tersebut masing-masing partisipan akan menampilkan kesenian terbaik yang mereka miliki. Selanjutnya seluruh rangkaian kegiatan Pesta Kesenian Bali ini dipusatkan di Taman Budaya ini. Stand-stand kesenian sebagai ajang promosi dibangun di tempat ini, dimana setiap harinya juga pertunjukan-pertunjukan seni diadakan di tempat ini sebagai rangkaian Pesta Kesenian Bali.

Objek Wisata di Kota Denpasar

Lambang Kota Denpasar
Kota Denpasar merupakan satu-satunya kota madya yang ada di propinsi Bali, dimana Ibu Kota Propinsi Bali berada. Kota Denpasar berbatasan dengan Kabupaten Badung di sebalah utara, Kabupaten Badung disebelah barat, Kabupaten Gianyar disebelah timur dan Selat Badung disebelah selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 127.78 km2 dengan  4 kecamatan, 16 kelurahan dan 27 desa.

Sejarah Kota Denpasar

Kota Denpasar pada mulanya merupakan pusat Kerajaan Badung,akhirnya pula tetap menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan bahkan mulai tahun 1958 Denpasar dijadikan pula pusat pemerintahan bagi Propinsi Daerah Tingkat I Bali. Kota Denpasar yang merupakan Ibukota Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan sekaligus juga merupakan Ibukota Propinsi Daerah Tingkat I Bali mengalami pertumbuhan di berbagai sector dengan sangat cepat.
Berdasarkan kondisi obyektif dan berbagai pertimbangan antara Tingkat I dan Tingkat II Badung telah dicapai kesepakatan untuk meningkatkan status Kota Administratif Denpasar menjadi Kota Denpasar. Dan akhirnya pada tanggal 15 Januari 1992, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1992 tentang Pembentukan Kota Denpasar lahir dan telah diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 27 Pebruari 1992 sehingga merupakan babak baru bagi penyelenggaraan Pemerintahan di Daerah Tingkat I Bali, Kabupaten Daerah Tingkat II Badung dan juga bagi Kota Denpasar.
 

Kota Denpasar memiliki banyak tempat-tempat wisata menarik yang patut dikunjungi, berikut tempat/objek wisata yang ada di Kota Denpasar antara lain :

Pantai Sanur Art Center Monumen Bajra Sandhi
Pantai Sanur
Art Center Bali
Monumen Bajra Sandhi
Museum Bali Hutan Mangrove Desa Budaya Kertalangu
Museum Bali
Hutan Mangrove Bali
Desa Budaya Kertalangu

Taman Budaya (Art Center Bali)

Taman Budaya (Art Center Bali)
Taman Budaya (Art Center) terletak di Jl. Nusa Indah kurang lebih 2 km ke arah timur dari pusat kota Denpasar. Taman Budaya awalnya merupakan sebuah proyek Pengembangan Pusat Kesenian Bali di Denpasar yang dibentuk pada tahun 1969 bertujuan untuk melestarikan kekayaan seni budaya daerah Bali. Proyek ini merupakan gagasan dari almarhum Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, yang kemudian memberikan mandat kepada seorang arsitektur terkemuka, Ida Bagus Tugur untuk membangun kawasan ini.
Taman Budaya (Art Center Bali) adalah komplek bangunan yang luas dengan gaya terbaik arsitektur tradisional Bali lay out bangunan-bangunannya, baik amphitheater dan tempat ruang pertunjukan maupun bangunan tambahan melambangan cerita Pemutaran Gunung Mandara Giri di lautan susu dimana memercik “amerta” air suci untuk kehidupan abadi sesuai dengan sifat budaya yang dinamis dan terus hidup sepanjang masa.
Komplek Taman Budaya ini dibuka pada tahun 1973 dan mentradisikan Pesta Kesenian Bali (Bali Art Festival) yang diselenggarakan sebulan penuh setiap tahun diwarnai dengan hiburan tari-tarian tradisional, pamerah kerajinan dan aktivitas budaya lainnya. Dalam event ini juga ada kegiatan-kegiatan komersial. Pada acara pembukaan diramaikan dengan parade seni. Parade seni ini diikuti oleh seleruh kabupaten dan kota di Bali dengan mengirim misi dan diva kesenian mereka. Bahkan sering diikuti oleh provinsi-provinsi lain di Indonesia dan terkadang juga terdapat peserta dari luar negeri seperti Jepang dan Korea. Parade seni ini ditampilkan dalam berbagai bentuk yakni dari yang sakral, tradisional sampai yang kontemporer. Juga jenis pakaian-pakaian pengantin dan pakaian adat dari masing-masing daerah, instrumen musik dan atau gambelan, bentuk-bentuk sesajen dan lainnya.
Taman Budaya (Art Center) senantiasa digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) setiap tahunnya pada pertengahan bulan Juni s/d Juli.

Berwisata ke Bendungan Palasari

Bendungan Palasari
Bendungan Palasari terletak di Desa Ekasari, kecamatan Melaya, kabupaten Jembrana. Bendungan ini dibangun pada tahun 1986, dengan luas 100 Ha dengan latar belakang hutan lindung serta mempunyai hawa yang sejuk dan diresmikan penggunaannya pada tanggal 23 Juli 1989 oleh Presiden Soeharto.
Bendungan Palasari ini awalnya difungsikan sebagai pengendali banjir dan untuk irigasi bagi lahan pertanian di sekitarnya. Disamping itu keberadaan bendungan ini juga dimanfaatkan sebagai tempat pengembangan usaha budidaya ikan air tawar. Seiring berjalannya waktu waduk ini juga banyak dikunjungi oleh warga untuk berwisata.  Selain terdapat arena moto cross dan off road, tempat ini juga menawarkan wisata memancing dan wisata mengelilingi bendungan sambil menikmati keindahan alam disekitar bendungan.
Untuk menunjang pariwisata di sana, sarana dan prasarana kepariwisataan juga sudah tersedia seperti villas, warung penjual makanan dan minuman serta juga dilengkapi dengan fasilitas parkir yang luas. Untuk dapat berkunjung ke objek wisata Bendungan Palasari ini diperlukan waktu sekitar 2,5 jam berkendara dari kota Denpasar.

Menikmati Keindahan Hutan Mangrove Bali

Hutan Mangrove Bali
Objek wisata hutan mangrove terletak di tepi jalan by pass Ngurah Rai yang menghubungkan bandara Ngurah Rai Bali dengan objek wisata Sanur. Mangrove Information Center, itulah nama kawasan wisata Hutan Mangrove yang merupakan kawasan hutan lindung mangrove. Beberapa bulan yang lalu, tempat ini menjadi terkenal dengan kedatangan bintang sepak bola Christiano Ronaldo yang ikut menanam mangrove sebagai bagian kampanye penyelamatan hutan mangrove.

Hutan mangrove Bali ini masuk kedalam kawasan taman hutan raya (Tahura) Ngurah Rai dengan luas 1300 Ha yang merupakan kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan Japan International Corporation Agency  dalam pelestarian hutan mangrove. Konsep taman wisata hutan mangrove ini adalah sebagai kawasan penguatan lingkungan alam pantai dibali yang berwawasan wisata alam. 

Disamping kita bisa menikmati suasana alam khas hutan mangrove, di kawasan ini juga menyediakan pelatihan menanam bibit mangrove dan juga sering dijadikan sebagai objek pengambilan gambar untuk pre wedding bagi calon pengantin. Harapan kedepan supaya kawasan hutan mangrove ini bisa berfungsi lebih maksimal lagi, butuh konsentrasi pemerintah setempat yang tentunya juga mengandalkan partisipasi masyarakat luas, para wisatawan, maupun pihak terkait lainnya untuk tidak sekedar menjadi penikmat namun juga ikut andil dalam merawat atau menjaga lingkungannya, setidaknya dimulai dengan hal kecil yakni tidak mengotori, merusak, mencorat-coret ataupun membuang sampah di kawasan ini supaya kawasan hutan mangrove ini bisa terus eksis dan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Objek Wisata di Kabupaten Gianyar

Lambang Kabupaten Gianyar
Kabupaten Gianyar merupakan salah satu kabupaten yang ada di propinsi Bali. Kabupaten Gianyar  berbatasan dengan Kabupaten Bangli di sebalah utara, Kabupaten Badung disebelah barat, Kabupaten Klungkung disebelah timur dan Kodya Denpasar disebelah selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 368.00 km2 dengan  7 kecamatan, 6 kelurahan dan 64 desa.

Sejarah Kabupaten Gianyar

Sejarah Kota Gianyar dimulai pada 236 tahun yang lalu, 19 April 1771, ketika Gianyar dipilih menjadi nama sebuah keratin atau Puri Agung yaitu Istana Raja (Anak Agung) oleh Ida Dewa Manggis Sakti maka mulai saat itu sebuah kerajaan yang berdaulat dan otonom telah lahir serta ikut pentas dalam percaturan kekuasaan kerajaan-kerajaan di Bali. Pembangunan Kota kerajaan Gianyar yang berdaulat dan memiliki otonomi penuh dimulai oleh Ida dewa Manggis Sakti, generasi IV dari Ida Dewa Manggis Kuning. Sejak berdirinya Puri Agung Gianyar 19 April  1771 sekaligus ibu kota Pusat Pemerintah Kerajaan Gianyar mulainya tonggak sejarah kerajaan Gianyar. Sejak itu dan selama periode sesudahnya Kerajaan Gianyar yang berdaulat, ikut mengisi lembaran sejarah kerajaan-kerajaan di Bali yang terdiri atas sembilan kerajaan di Klungkung, Karangasem, Buleleng, Mengwi, Bangli, Payangan, Badung, Tabanan, dan Gianyar.
Ketika Belanda telah menguasai seluruh Pulau Bali, Kedelapan bekas kerajaan tetap diakui keberadaannya oleh Pemerintah Guberneurmen namun sebagai bagian wilayah Hindia Belanda yang dikepalai oleh seorang raja (Selfbestuurder) di daerah Swaprajanya masing-masing. Selama masa revolusi, ketika daerah Bali termasuk dalam wilayah Negara Indonesia Timur (NIT) otonomi daerah kerjaan (Swapraja) kedalam sebuah lembaga yang disebut Oka, Raja Gianyar diangkat sebagai Ketua Dewan Raja-raja menggantikan tahun 1947.
Bupati Kepala Derah Tingkat II Gianyar untuk pertama kalinya dimulai pada tahun 1960. Bupati pertama di Dati II Gianyar adalah Tjokorda Ngurah (1960-1963). Bupati berikutnya adalah Drh. Tjokorda Anom Pudak (1963-1964) dan Bupati I Made Sayoga, BA (1964-1965).

Kabupaten Gianyar memiliki banyak tempat-tempat wisata menarik yang patut dikunjungi, berikut tempat-tempat/objek-objek wisata yang ada di kabupaten Gianyar antara lain :

Ubud Pasar Sukawati Tegalalang
Monkey Forest Ubud Tampaksiring Taman Safari Indonesia
Goa Gajah

Taman Safari Indonesia | Bali Safari & Marine Park

Taman Safari Indonesia
Taman Safari Indonesia adalah tempat wisata keluarga yang berwawasan lingkungan dan berorientasi habitat satwa pada alam bebas. Taman Safari Indonesia dibangun dibeberapa lokasi salah satunya adalah Bali Safari & Marine Park yang terletak di jalan Prof. Dr. Ida Bagus Mantra tepatnya di desa Serongga dan desa Medahan di Kabupaten Gianyar. Kawasan Taman Safari ini dibangun diatas lahan seluas 40 hektar dan dihuni oleh lebih dari 400 spesies hewan dari berbagai penjuru dunia dan 80 spesies hewan langka.
Di sini Anda dapat melihat berbagai satwa jenis langka seperti jalak putih, burung hantu, babi rusa, buaya, tapir, gajah Sumatra, rusa timor, beruang madu, harimau Sumatra, rusa tutul, nilgai, black buch, onta punuk satu, dan masih banyak satwa langka lainnya. Dengan tema pengalaman safari kuno dan modern, pengunjung diajak menikmati kehidupan Bali kuno dan sejarah yang erat dengan kehidupan liar. Diawal rute, ada dekorasi cerita Tantri dan Ramayana, kemudian perkampungan Bali, hingga ke peradaban budaya nusantara. Perjalanan safari ini dilakukan dengan kendaraan khusus dari Terminal Toraja.
Selain itu anda juga dapat menikmati Bali Agung Theatre yang merupakan teater megah di Bali dengan kapasitas tempat duduk sampai 1200 orang. Dilengkapi dengan peralatan canggih, dengan tata panggung, tari dan suara yang rapi menjadikannya tontonan yang wajib untuk setiap keluarga.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Bali Safari & Marine Park selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Objek Wisata di Kabupaten Bangli

Bangli adalah kota yang bersih dan rapi serta banyak memiliki sejumlah pura yang menarik antara lain Pura Kehen yang merupakan pura terbaik di Timur Bali. Kota Bangli mudah dicapai dengan kendaraan umum karena terletak pada jalan raya antara terminal Batubulan di Denpasar dan obyek wisata Gunung Batur. Kabupaten Bangli merupakan satu-satunya Kabupaten di Provinsi Bali yang tidak mempunyai wilayah laut, namun demikian Kabupaten Bangli menyimpan sejumlah potensi seperti keindahan panorama Gunung dan Danau Batur yang terletak di Kecamatan Kintamani.
Kabupaten Bangli dapat dicapai dengan berkendara dari kota Denpasar selama kurang lebih 1 Jam. Kabupaten Bangli berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebelah utara, Kabupaten  Klungkung di sebelah selatan, Kabupaten Karangasem di sebelah timur dan Kabupaten Gianyar dan Kabupaten Badung di sebelah barat. Luas wilayahnya yaitu 490,71 km2 yang meliputi 4 kecamatan, 4 kelurahan dan 68 desa.

Sejarah Kabupaten Bangli

Menurut Prasasti Pura Kehen kini tersimpan di Pura Kehen, diceritakan bahwa pada zaman silam di desa Bangli berkembang wabah penyakit yang disebut kegeringan yang menyebabkan banyak penduduk meninggal. Penduduk lainnya yang masih hidup dan sehat menjadi ketakutan setengah mati, sehinnga mereka berbondong-bondong meninggalkan desa guna menghindari wabah tersebut. Akibatnya Desa Bangli menjadi kosong karena tidak ada seorangpun yang berani tinggal disana. Raja Ida Bhatara Guru Sri Adikunti Ketana yang bertahta kala itu dengan segala upaya berusaha mengatasi wabah tersebut. Setelah keadaan pulih kembali sang raja yang kala itu bertahta pada tahun Caka 1126, tanggal 10 tahun Paro Terang,hari pasaran Maula, Kliwon, Chandra (senin), Wuku Klurut tepatnya tanggal 10 Mei 1204, memerintahkan kepada putra-putrinya yang bernama Dhana Dewi Ketu agar mengajak penduduk ke Desa Bangli guna bersama-sama membangun memperbaiki rumahnya masing-masing sekaligus menyelenggarakan upacara/yadnya pada bulan Kasa, Karo, Katiga, Kapat, Kalima, Kalima, Kanem, Kapitu, Kaulu, Kasanga, Kadasa, Yjahstha dan Sadha. Disamping itu beliau memerintahkan kepada seluruh pendududk agar menambah keturunan di wilayah Pura Loka Serana di Desa Bangli dan mengijinkan membabat hutan untuk membuat sawah dan saluran air. Untuk itu pada setiap upacara besar penduduk yang ada di Desa Bangli harus sembahyang.
Pada saat itu juga, tanggal 10 Mei 1204, Raja Idha Bhatara Guru Sri Adikunti Katana mengucapkan pemastu yaitu:
Barang siapa yang tidak tunduk dan melanggar perintah, semoga orang itu disambar petir tanpa hujan atau mendadak jatuh dari titian tanpa sebab, mata buta tanpa catok, setelah mati arwahnya disiksa oleh Yamabala, dilempar dari langit turun jatuh ke dalam api neraka.
Bertitik tolak dari titah-titah Sang Raja yang dikeluarkan pada tanggal 10 Mei 1204, maka pada tanggal tersebut ditetapkan sebagai hari lahirnya Kota Bangli.

Kabupaten Badung memiliki banyak tempat-tempat wisata menarik yang patut dikunjungi, berikut tempat-tempat/objek-objek wisata yang ada di kabupaten Badung antara lain :
Danau Batur Kintamani
Danau Batur
Kintamani
Pura Kehen Desa Penglipuran
Pura Kehen
Desa Penglipuran

Desa Budaya Kertalangu Denpasar

Desa Budaya Kertalangu
Desa Budaya Kertalangu terletak di Kesiman Kertalangu Denpasar, Desa Budaya Kertalangu adalah salah satu objek dan daya tarik wisata di Kota Denpasar yang memanfaatkan hamparan persawasahan sebagai daya tarik utama. Dengan tersedianya faslitas jogging track sepanjang 4 km, wisatawan dapat menikmati alam dan aktifitas persawahan di tengah Kota.
Wisatawan baik mancanegara maupun domestik tertarik mengunjungi kawasan ini karena disamping dapat menikmati alam persawahan, juga dapat menikmati beberapa aktifitas wisata antara lain : wisata kuliner, memancing, berkuda, spa, wisata belanja (shopping), wisata kerajinan dan wisata budaya. Pengambangan Desa Budaya Kertalangu juga merupakan upaya pengembangan kepariwisataan dan pelestarian pertanian di wilayah Desa Kesiman Kertalangu
Desa Budaya Kertalangu tepat berada di lahan seluas 80 hektar terdiri dari bangunan yang dikelilingi sawah-sawah dan kebun yang subur hijau alami, desa ini memiliki pesona alam yang tersembunyi dimana didalamya terdapat Tugu Perdamaian Dunia yang dikelilingi patung toko-toko dunia. Negara-negara independen yang mendukung perdamaian serta symbol-simbol agama dari 9 dunia.
Fasilitas yang terdapat di Desa Budaya Kertalangu ini antara lain: taman kertalangu, sasana budaya, alun-alun, kopi sawah, merpati room, angsa room, genesha park, genesa ArtScience, 4 km area jogging, kolam pancing, plying fox, toko cindramata dan lain lain.
Banyak pengunjung datang kesini untuk menikmati suasana alam desa ini bersama keluarga dan teman. Aktifitas yang bisa dilakukan di sini antara lain: menunggang kuda, membuat sabun, menanam padi, tangkap bebek, melukis layang layang, mewarnai patung, mengayam, membuat canang, menari dan melukis diatas kanvas.
Untuk bisa sampai di Desa Budaya Kertalangu ini anda memerlukan waktu kira-kira 15 menit dengan jarak tempuh lebih kurang 6 km dari Kota Denpasar.
Desa Budaya Kertalangu dibuat atas dasar pemikiran bapak Suardhana Linggih pada tahun 2005, penduduk asli yang ingin turut berpartisipasi memajukan industri pariwisata di Bali dengan konsep desa pertama di Bali yang didedikasikan untuk wadah sadar perdamaian, kebudayaan dan hidup berwawasan hijau bagi siapapun di dunia ini.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Desa Budaya Kertalangu Denpasar selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Pantai Balian Bali Surga Para Surfer

Pantai Balian
Pantai Balian merupakan salah satu dari sekian pantai yang dimiliki Tabanan. Pantai Balian yang berada di wilayah Desa Lalanglinggah, Kecamatan Selemadeg Barat merupakan surga bagi para surfer. Pantai yang berada di bagian barat Tabanan ini memiliki ombak yang tinggi, sehingga tempat favorit bagi turis penghobi surfing.
Keindahan pantai ini menjadikan Objek wisata yang sangat ramai untuk di kunjungi, hamparan pantai berpasir hitam yang mempesona dan ombak yang tinggi sehingga menjadi incaran para peselancar. Lokasi wisata ini terletak di jalur provinsi Bali dan Jawa, sehingga tempatnya sangat mudah diakses. Pantai Balian memang salah satu objek wisata pantai di Bali yang menjadi spot surfing. Pantai ini belum banyak dikunjungi para wisatawan meskipun terlihat sangat menawan dan mengagumkan sehingga ke indahan pantainya masih tetap terjaga
Pantai ini belum banyak dikunjungi para wisatawan meskipun terlihat sangat menawan dan mengagumkan viewnya. Mungkin karena belum populer dan hanya dikenal dikalangan para surfer mania saja. Bagi Anda yang berniat surfing ditempat ini disarankan untuk datang sebelum jam 11.00 siang karena angin darat akan berhembus kuat sehingga bisa menbantu kegiatan surfing Anda. Untuk kekuatan dan panjang ombaknya sendiri bisa dikatakan normal, namun memiliki frekuensi yang cepat dan teratur.
Biaya untuk memasukia areal pantai ini cukup murah, hanya Rp 2.000 saja untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Jika Anda berniat untuk menginap, dengan mudahnya bisa ditemukan disepanjang perjalanan menuju pantai. Disini juga sudah lumayan padat para penjual yang menjajakan berbagai makanan dan minuman, termasuk didalamnya hidangan khas pantai, seafood. Dan kalau malam menjelang, banyak bule yang kerap mengadakan pesta untuk menikmati malam di Pantai Balian ini.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Pantai Balian selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Museum Bali Sebagai Objek Wisata Pendidikan

Museum Bali
Museum Bali terletak dipusat kota Denpasar, tepatnya di sebelah timur lapangan Puputan Badung, bersebelahan dengan Pura Agung Jagat Natha. Dimana Museum Bali merupakan salah satu bangunan gedung tua di Bali  .

Museum Bali di Denpasar ini mulai dibangun pada tahun 1931, memiliki arsitektur unik dimana eksterior dinding, halaman, dan gerbang dirancang dengan gaya khas pura dan puri / kerajaan di Bali. Ada tiga anjungan di kompleks Museum Bali.Tiga Paviliun di tempat ini dimana mewakili berbagai wilayah kabupaten di Bali.

Museum Bali berbentuk bangun memanjang dari utara ke selatan ,terbagi menjadi dua bagian. Dimana bagian utara merupakan komplek bangunan lama yang terdiri tiga gedung utama yaitu gedung Tabanan, gedung Karangasem dan Gedung Buleleng. Fungsinya adalah untuk pameran tetap. Bagian selatan merupakan komplek banguna baru yang dibangun tahun 1969. Di komplek bangunan baru ini terdapat gedung perpustakaan, dan gedung pameran sementara. Komplek bangunan baru berfungsi untuk administrasi dan penyelenggaraan pameran sementara yang diselenggarakan oleh Museum Bali atau pihak lain.Pementasan kesenian dilakukan di komplek bangunan baru di bagian selatan.

Sejarah Museum Bali

Sejarah pembangunan Museum Bali berawal pada tahun 1910, dimana  kapal Belanda KPM berlabuh dan menurunkan turis ke pulau Bali, sehingga Bali mulai dikenal di luar negeri. dan mulai kedatangan banyak turis dimana banyak dari turis tersebut pulang membawa barang sejarah dan prasejarah untuk diboyong ke negara nya .Itulah yang menjadi dasar Mr. WFJ Kroon, Asistant Resident Bali dan Lombok untuk membuat museum dalam menjaga keberadaan barang sejarah Bali.

Bangunan Museum Bali merupakan perpaduan antara arsitektur pura dan puri . Arsiteknya adalah I Gusti Gede Ketut Kandel , I Gusti Ketut Rai , dan Curt Grundler dari Jerman. Sedangkan dana pembangunan gedung museum Bali diberikan  oleh raja Buleleng, Tabanan, Badung dan Karangasem.Pada tahun 1932 bangunan Museum Bali ini dibuka untuk umum.

Didalam Museum Bali ini pengunjung dapat melihat sejumlah benda peninggalan sejarah tentang hubugan dagang Raja-raja Bali dengan kolonial belanda. senjata tradisional,  senjata api sederhana dan lain lain. Dimana senjata-senjata itu juga dipakai oleh masyarakat bali dalam melawan penjajahan kolonial Belanda. Selain benda-benda peninggalan sejarah, dalam museum Bali juga dapat melihat benda-benda kebudayaan Bali yang terancam punah. Seperti alat tenun tradisional yang terbuat dari kayu.

Museum Bali terdiri tiga gedung yaitu Gedung Tabanan, Gedung Karangasem dan Gedung Buleleng berdasarkan konsep Tri Mandala yaitu nista mandala , madya mandala , dan utama mandala .Di museum bali kita dapat melihat  peninggalan sejarah dan etnografi  sejak masa prasejarah sampai masa modern ,di tiga buah gedung itulah tempat penyimpanan barang-barang kesenian, barang etnografis, naskah-naskah kuno (prasasti), keramik, patung porselin, alat-alat rumah tangga, alat pertanian, senjata, alat-alat upacara, lukisan, wayang kulit dan lain lain.Gedung-gedung baru di bagian selatan yang dibangun pada tahun 1969 merupakan pengembangan fasilitas gedung museum Bali.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Museum Bali selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Tempat Wisata Bali | Pura Kehen Bangli

Pura Kehen Bangli
Pura Kehen terletak di Desa Cempaga, Bangli. Lokasi ini dapat ditempuh dengan berkendara dari Kota Denpasar selama kurang lebih 1,5 jam. Tidak seperti pada umumnya Pura Kahyangan Jagad di Bali, Pura Kehen ini tidak menggunakan candi Bentar sebagai pintu masuknya namun menggunakan Candi Kurung. Disamping itu bale kulkul terletak pada batang pohon beringin yang memberikan nuansa berbeda dengan pura-pura umumnya di Bali.
Dengan berbagai kelebihan tersebut menjadikan pura ini sebagai andalan pariwisata di Kota Bangli selain Danau Batur.  Di pura ini ditemukan tiga prasasti tentang keberadaan pura tersebut, namun dari ketiga prasasti tersebut belum tersirat secara pasti kapan pura tersebut dibangun.

Sejarah Pura Kehen

Berdasarkan prasasti ketiga yang berangka tahun 1204 Masehi disebutkan beberapa pura yang mempunyai hubungan kesatuan meliputi Pura Hyang Hatu, Hyang Kedaton, Hyang Daha Bangli, Hyang Pande, Hyang Wukir, Hyang Tegal, Hyang Waringin, Hyang Pahumbukan, Hyang Buhitan, Hyang Peken Lor, Hyang Peken Kidul dan Hyang Kehen.
Kehen sendiri diperkirakan berasal dari kata keren (tempat api), bila  dihubungkan dengan prasasti pertama yang berbahasa Sansekerta, namun tidak berangka tahun, di mana di dalamnya menyebutkan kata-kata Hyang Api, Hyang Karinama, Hyang Tanda serta nama-nama biksu.
Jro Pasek Pura Kehen sebagai salah satu Dangka di Pura Kehen mengaku belum begitu banyak mengetahui terkait sejarah Pura Kehen, terlebih Jro Pasek yang masih berusia 23 tahun ini baru satu setengah tahun menjadi Jero Mangku di Pura Kehen. Meski belum mengetahui terkait sejarah Pura Kehen, namun keunikan atau kejadian mistis yang pernah terjadi di Kehen pernah didengarnya dari cerita orangtua.
Selain itu, masyarakat setempat sangat percaya jika patahnya pohon beringin yang terdapat di pura sebagai pertanda grubug (musibah). Hal tersebut disimpulkan dari kejadian-kejadian yang pernah terjadi secara turun temurun.
Tidak hanya itu, letak bagian yang patah juga diyakini sebagai pertanda musibah tersebut akan melanda orang tertentu. Misalnya pada saat raja Bangli meninggal dunia, dahan pohon beringin yang letaknya di Kaja Kangin (Utara-Timur) patah. Kemudian jika ada pendeta yang meninggal, maka dahan pohon beringin sebelah Kaja Kauh (Barat Daya) patah. Sedangkan jika bagian yang patah letaknya Kelod Kangin (Timur Laut) dan Kelod Kauh (Tenggara) maka diyakini akan ada musibah yang menimpa masyarakat.
Terkait upacara, karya di Pura Kehen Bangli berlangsung setiap enam bulan sekali tepatnya pada Hari Raya Pagerwesi yakni setiap Buda Kliwon Wuku Sinta. Namun, upacara besarnya yaitu Ngusaba Dewa atau biasa disebut Karya Agung Bhatara Turun Kabeh berlangsung setiap tiga tahun sekali, tepatnya Purnama Kalima, Saniscara Pon Wuku Sinta. Selain itu, upacara kecil seperti Saraswati, Ulian Sugimanik, Purnama, Tilem, Kajeng Kliwon serta Buda Kliwon juga dilangsungkan di Pura Kehen.
Pemangku di Pura Kehen berjumlah 33 orang yang terbagi atas dua golongan, yakni Dangka dan Pemaksan. Dangka terdiri dari 16 orang pemangku yang bertugas sebagai pangempon khusus perampean atau pelinggih-pelinggih di jeroan. Sedangkan Pemaksan yang terdiri dari 17 orang bertugas sebagai pembantu Dangka.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Pura Kehen selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Indahnya Sunrise di Pantai Sanur Bali

Pantai Sanur
Pantai Sanur merupakan salah satu destinasi wisata terbaik di Bali. Dengan andalan pasirnya yang putih menjadikan sanur sebagai surganya wisatawan mancanegara untuk berjemur.  Ombak disini sangat tenang, sehingga tidak cocok untuk surfing, namun tempat ini cocok untuk kegiatan olah raga air lainnya seperti parasailing, banan boat, canoe, diving snorkeling dan masih banyak lagi.
Karena memiliki ombak yang cukup tenang, maka pantai Sanur tidak bisa dipakai untuk surfing seperti pantai Kuta. Oleh karena kondisinya yang ramah, lokasi selam ini dapat digunakan oleh para penyelam dari semua tingkatan keahlian.  Pantai Sanur juga dikenal sebagai Sunrise beach (pantai Matahari terbit) sebagai lawan dari Pantai Kuta.
Merupakan pantai di sebelah timur pulau Bali menjadikan lokasi ini sebagai tempat yang tepat untuk menyaksikan matahari terbit atau sunrise. Tiap pagi banyak wisatawan yang menikmati matahari terbit dan mengabadikannya lewat foto. Kawasan ini juga sudah ditata dengan dibangunnya senderan yang melintang kearah laut dan diujung-ujungnya dibangun pondok-pondok kecil memberikan pengalaman yang unik untuk menikmati wisata pantai.
Sepanjang pantai Sanur sekarang ini sudah dilengkapi dengan penunjang wisata seperti hotel, restaurant, art shop dan kafe-kafe kecil. Dan tiap sore banyak pengunjung yang memanfaat suasana sore dengan melakukan jogging atau jalan-jalan kecil karena sepanjang pantai sudah dilengkapi dengan jalan khusus untuk melakukan jogging.
Di pantai Sanur, pada pagi hari akan tampak kesibukan para nelayan yang terlihat mendorong perahunya (jukung) ke tengah laut. Setiap harinya pantai ini mulai ramai dikunjungi untuk berenang ataupun sekedar bersantai. Pantai Sanur kini semakin terlihat indah karena telah direklamasi yang diakibatkan abrasi yang mengerus pasir di beberapa bagian pantainya. Pada tahun 2004, pantai ini telah dirubah bentuk penampilannya dengan dipasangnya krib-krib (penahan ombak) yang di bagian ujungnya dibangun bale bengong, sehingga setiap pengunjung akan dapat menikmati keindahan laut dengan nyaman sambil duduk bersantai di bale tersebut.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Pantai Sanur selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Objek Wisata di Kabupaten Badung

Lambang Kabupaten Badung
Kabupaten Badung adalah sebuah kabupaten paling muda di propinsi Bali. Kabupaten Badung berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebalah utara, Kabupaten Tabanan disebelah barat, Kabupaten Gianyar dan Kodya Denpasar disebelah timur dan samudera Indonesia disebelah selatan.

Sejarah Kabupaten Badung

Sejarah Badung dimulai ketika sebuah terjadi sebuah pertempuran yang sangat heroik antara tentara Kerajaan Badung dengan tentara kolonial Belanda yang terkenal dengan sebutan Puputan Badung. Puputan Badung pada tanggal 20 September 1906 tidak saja merupakan catatan sejarah perjalanan negeri ini, namun juga dalam hati sanubari rakyat di seluruh negeri. Perang yang menelan 7000 korban jiwa itu patut menjadi suri teladan tidak hanya bagi rakyat Badung, namun bagi seluruh insan tanah air di masa kini, untuk senantiasa berjuang mencapai cita-cita kemerdekaan Bangsa Indonesia sampai titik darah penghabisan.
Puputan Badung adalah sebuah bentuk perang perlawanan terhadap ekspedisi militer pemerintah kolonial Belanda V di Badung. Puputan Badung berarti pula bentuk reaksi terhadap intervensi penguasa Belanda terhadap kedaulatan masyarakat Badung. Bagi masyarakat Bali di Badung, puputan berarti juga sikap mendalam yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur, yaitu ksatria sejati, rela berkorban demi kedaulatan dan keutuhan negeri (Nindihin Gumi Lan Swadharmaning Negara) membela kebenaran dan keadilan (Nindihin Kepatutan) serta berperang sampai tetes darah terakhir.
Oleh karena itu ”Puputan” yang menjadi tekad bersama raja-raja, para bangsawan dan seluruh rakyat di Badung sama sekali bukanlah refleksi keputusasaan, justru perang Puputan Badung 20 September 1906 merupakan fakta sejarah tak terbantahkan tentang jiwa kepahlawanan dan kemanunggalan raja dan rakyat Badung. Berdasarkan bukti-bukti historis yang ada, jelas bahwa raja-raja dan rakyatnya betul-betul tulus iklas dan berani laskarya melakukan perang ”Puputan” sebagai bentuk keputusan bersama untuk mempertahankan kedaulatannya dari Belanda.

Kabupaten Badung memiliki banyak tempat-tempat wisata menarik yang patut dikunjungi, berikut tempat-tempat/objek-objek wisata yang ada di kabupaten Badung antara lain :

Pantai Kuta Taman Ayun Nusa Dua
Pura Uluwatu Alas Kedaton Tanjung Benoa
Garuda Wisnu Kencana Pantai Jimbaran

Wisata : Monkey Forest Ubud Bali

Monkey Forest Ubud Bali
Monkey Forest Ubud adalah sebuah taman cagar alam untuk melestarikan monyet dan juga merupakan kompleks pura yang terdapat di desa Ubud, Bali. Berlokasi sekitar 26 kilometer dari Denpasar, terdapat sebuah hutan kecil yang menjadi habibat ratusan kera Bali yang cukup jinak. Selain melihat habitat kera-kera tersebut, para wisatawan yang berkunjung ke tempat ini juga dapat melihat Pura Dalem Agung dan Pura Pemanduan Suci serta Nista Mandala. Di tempat ini juga terdapat Kuburan Desa dimana seringkali diadakan upacara ngaben yang dapat disaksikan langsung oleh para pengunjung. Taman cagar alam ini dihuni oleh sekitar 340 monyet. Ada empat group kawanan monyet yang menempati areal ini yang masing-masing group menguasai satu area. Kawasan ini disucikan oleh umat Hindu dan disini wisatawan akan dimanjakan dengan beragam atraksi dan tiap bulannya, kawasan ini dikunjungi oleh setidaknya 10.000 wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Di kawasan monkey forest ini terdapat sebuah pura yang bernama Pura Dalem Agung Padangtegal, yang oleh masyarakat sekitar digunakan untuk meminta air suci untuk keperluan upacara Pengabenan.

Jadi jangan lewatkan kesempatan untuk mengunjungi objek wisata Monkey Forest Ubud selama anda berlibur di Bali. Jika anda butuh bantuan untuk melakukan perjalanan tour, Diwira Tour & Travel senantiasa akan membantu keperluan tour anda selama di Bali.


Objek Wisata di Kabupaten Karangasem

Lambang Kabupaten Karangasem
Kabupaten Karangasem adalah sebuah kabupaten paling timur dari propinsi Bali, sekitar 70 km arah timur dari Denpasar.  Kabupaten Karangasem berbatasan dengan Kabupaten Buleleng di sebalah utara, Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Bangli disebelah barat, Selat Lombok disebelah timur dan samudera Indonesia disebelah selatan.

Sejarah Kota Amlapura

Mula-mula Ibu Kota Karangasem masih berpusat dengan nama Karangasem pula. Mengingat beberapa Kabupaten di Bali sudah memiliki Ibu Kota seperti Buleleng dengan Kota Singaraja - Singa Ambararaja, Jembrana dengan Kota  Negara, Badung dengan Ibu Kota Denpasar, maka dicarilah upaya untuk mencari nama terbaik Ibu Kota Karangasem.
Anak Agung Gde Karang yang menjadi Bupati saat itu berkonsultasi dengan Ketua DPRD Ida Wayan Pidada, hingga menemukan nama Amlepure (Amlapura) yang artinya, Amla berarti buah-buahan, sebagaimana layaknya daerah Karangasem yang memiliki potensi buah-buahan yang sangat beragam, buah apapun yang ada di Bali di Karangasem pun ada. Dari asal nama wilayah Amlanegantun dan sebagai pusat buah-buahan yang beragam, maka lahirlah nama Amlapura (Pura = tempat, Amla = buah).
Nama Amlapura akhirnya diresmikan sebagai Ibu Kota Kabupaten Karangasem  dengan turunnya Kep. Mendagri tanggal 28 Nopember 1970 No. 284 tahun 1970, dan terhitung mulai tanggal 17 Agustus 1970,  Kota Karangasem sebagai Ibu Kota Dati II diubah menjadi Amlapura, bersamaan dengan  Upacara Pembukaan Selubung Monument Lambang Daerah, oleh Panglima Daerah Kepolisian (Pangdak) XV Bali, sebagai Panji kebanggaan Kabupaten Karangasem di Lapangan Tanah Aron. Dan yang menggembirakan saat itu Kabupaten Karangasem menerima penghargaan Sertifikat dan Tropy Patung dan hadiah berupa uang Rp. 200,00 sebagai Kabupaten Terbersih di Bali.

Makna Lambang Daerah Kabupaten Karangasem

Lambang Daerah diambil dari simbol Gunung Agung yang mengepulkan asap dengan membentuk Pulau Bali dengan Tugu Pahlawan di tengah, dikelilingi padi dan kapas menandakan simbol kemakmuran Gunung Agung dengan Pura Besakih sebagai pusat ritual umat Hindhu serta memiliki sejarah sebagai daerah perjuangan, murah sandang pangan, gemah ripah loh jinawi berkat lahar Gunung Agung.
Sedangkan garis merah merupakan simbol Karangasem ngemong Pura Kiduling Kreteg di Besakih.

Kabupaten Karangasem memiliki banyak tempat-tempat wisata menarik yang patut dikunjungi, berikut tempat-tempat/objek-objek wisata yang ada di kabupaten Karangasem antara lain :

Pantai Amed Desa Tenganan Pantai Candidasa
Pantai Amed
Desa Tenganan
Pantai Candidasa
Tirta Gangga Taman Ujung Pura Besakih
Taman Tirta Gangga
Taman Ujung
Pura Besakih
Bukit Jambul
Bukit Jambul

Jam Pelayanan :

Senin - Jumat : 09.00 - 17.00 Wita

Sabtu : 09.00 - 15.00 Wita

Tour Reservation